Selamat Datang

Di Pusat Laman Media

Pondok Pesantren Al-Qur'an Al- Amin Paburan

Purwokerto Utara - Banyumas

Jawa Tengah

Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin,
Pabuaran, Purwokerto Utara
Banyumas, Jawa Tengah.

Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin adalah Pondok Pesantren Al-Qur'an yang beralamat di Jalan H.R Boenyamin GG. Gunung Sindoro No. 13 A RT. 04 RW. 02 Pabuaran, Purwokerto Utara Kode Pos 53124

Al-Amin Pabuaran
Keluarga Ndalem

adalah Pengasuh utama dari santri Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin mereka juga sebagai pembimbing dan teladan para santri. Mereka adalah Abah dan Nyai beserta Putra dan putri.

Pembina santri

Mereka adalah yang mengatur dan mengawasi para santri dalam pelaksanaan pembelajaran pondok serta mengamankan para santri.

Pengurus Al-Amin

Mereka adalah yang diberikan tugas oleh Keluarga Ndalem dan Pembina untuk melaksanakan berbagai program kerja yang telah direncanakan,mereka juga bertugas memperlancar kondisifitas dalam pembelajaran pondok pesantren.

Kominfo

Adalah organisasi independen diluar pengurus Al-Amin yang berhubungan dengan komunikasi dan informasi yang berkaitan dengan segala aspek yang berhubungan dengan Pondok Al-Amin.

Madrasah Diniyah

Adalah Organisasi independen yang mengurusi berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran santri,organisasi ini berperan aktif dalam berlangsungnya kegiatan pondok, selain dari pengajian yang langsung diajarkan oleh Abah ataupun Pembina.

TPQ Al-Amin

Adalah organisasi independen yang berkegiatan dalam pengaplikasian ilmu yang diajarkan kepada anak-anak yang berada disekitar desa Pabuaran, organisasi ini tidak berkaitan dengan badan pengurus Al Amin.

Blog Al-Amin

Isra’ Mi’raj (27 Rajab 1442 H)

 Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW






Peristiwa Isra' dan Mi'raj bagi umat Islam menjadi fenomena sejarah yang sungguh luar biasa, terjadi satu tahun sebelum hijrah (10 tahun dari masa diutusnya Sayyid Muhammad sebagai Nabi) pada malam Isnain tanggal 27 Rajab.

Saat Nabi sendirian tidur di rumah Siti Ummi Hani (saudara kandung Sayyidina Ali) datanglah Jibril yang meminta beliau berjumpa dengan Allah. Ada yang menyebutkan Nabi berada di sekitar Masjidil Haram sekitar Hijr Ismail dengan ditemani dua sahabatnya (Hamzah dan Ja'far bin Abi Thalib).

Peristiwa ini begitu cepat dimana dalam waktu semalam menyelesaikan perjalanan jalur darat dan jalur udara. Zona destinasi isra' dan mi'raj adalah titik-titik sejarah para Nabi sebelum Nabi Muhammad. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut adalah bagian dari mu'jizat. Menguji keimanan orang Islam dapat dilakukan dengan bertanya percaya atau tidak terhadap Isra’ Mi’raj. 

Syekh Bisri Musthofa Rembang dalam kitab Tiryaqil Aghyar fi Tarjamati Burdatul Mukhtar menjelaskan bahwa waktu yang ditempuh dalam isra' itu sangat singkat dan mi'raj itu seperti qaba qausaini. Syi'ir yang diterjemahkan dalam bahasa Jawa dengan tulisan pegon oleh Mbah Bisri ini adalah:


سريت من حرم ليلا الى حرم ٭ كما سرى البدر في داج من الظلم


وبتّ ترقى الى ان نلت منزلة ٭ من قاب قوسين لم تدرك ولم ترم

Dalam catatan terjemahan ini, Mbah Bisri menyampaikan indahnya kata qaba qausaini yang secara lahiriyah bermakna "ujungnya dua pucuk". Padahal ibrah ini adalah terbalik, yang seharusnya qaba qausi, artinya menjadi dua pucuk.

Ada empat kitab yang secara spesifik menjelaskan Isra’ Mi’raj: 1) Qishshah Mi'rajin Nabi karya Syekh Najmudin Al Ghoidzi: 2) Tashilul Ghiba min Qissatil Isra' wa Mi'rajin Nabi karya Syekh Sahli bin Salim Assamarani: 3) I'anatul Muhtaj fi Qishshatil Isra' wal Mi'raj karya Syekh Ahmad Abdul Hamid Al Qandali: 4) Nurus Siraj fi Bayanil Isra' wal Mi'raj karya Syekh Ahmad Fauzan bin Zain Muhammad bin Muhamma Zain Arrambani.

Dalam kitab itu dijelaskan secara rinci bagaimana proses isra' dan mi'raj itu terjadi. Sehingga etnografi Isra’ Mi’raj dapat dirasakan dengan baik dan umat Islam di masa kini masih menikmati kemukjizatan Nabi Muhammad. Syekh Ahmad Abdul Hamid Kendal mengurai terlebih dahulu keutamaan bulan Rajab sebagai bulan mulia diantara dua belas bulan lainnya. Sebab di bulan Rajab itu banyak peristiwa sejarah, termasuk selamatnya kapal Nabi Nuh. Lokasi dimana Nabi singgah saat isra' secara detail disebutkan oleh Mbah Ahmad Abdul Hamid. Termasuk saat mi'raj juga secara rinci dijelaskan. Dimana alasan mi'raj oleh Mbah Ahmad disebutkan bahwa adanya kecemburuan antara langit dan bumi yang saling "poyok-pinoyok" (Jawa: mengejek satu dan lainnnya).

Sebab bumi merasa paling mulia karena dihuni oleh Nabi Muhammad. Langitpun akhirnya minta pada Allah agar Nabi Muhammad diperkenankan singgah kesana. Dan itulah yang dikabulkan Allah dalam peristiwa mi'raj. Syekh Sahli Semarang juga menjelaskan kisah yang sama. Bahwa peristiwa isra' dan mi'raj berjalan sangat cepat dengan segudang kisah yang diceritakan. Kepergian Nabi tengah  malam dan selesai menjelang subuh sudah berada kembali ke Kota Makkah.

Bahkan proses kehadiran Nabi di rumah Ummi Hani hingga Nabi langsung menuju Masjidil Haram untuk mengisahkan apa yang dialaminya juga disinggung dalam kitab Tashilul Ghiba. Syekh Ahmad Fauzan Rembang menyinggung bahwa peringatan Isra’ Mi’raj itu diperingati dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan kebiasan masyarakat. Termasuk cara mengkaji Isra’ Mi’raj disebutkan ada tiga model yaitu modern, sederhana dan kolot. Ini menunjukkan bahwa kisah Isra’ Mi’raj itu akan tetap menarik dikaji dari sisi apapun. Sebab itu adalah peristiwa langka yang diabadikan dalam surat al Isra ayat 1 dan surat an Najm ayat 1-17.

Maka wajar bagi mereka yang tidak mengikuti jejak Nabi tidak akan percaya dengan kisah ini. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Najmuddin Al Ghoizi bahwa orang yang tidak beriman, tidak akan percaya sebagaimana Abu Jahal dan orang kafir Quraisy yang menyebut Nabi sebagai tukang sihir (faramauhu bis sihr). Jika zaman dahulu sudah ada kelompok yang kufur terhadap Isra’ Mi’raj, maka peristiwa yang sudah hampir 14 abad berlalu itu masih ada yang tidak percaya itu wajar. Dan pasti, mereka yang tidak percaya adalah bukan orang yang beriman. Sedangkan bagi Muslim yang beriman, wajib percaya adanya Isra’ Mi’raj.

Dari kisah Isra’ Mi’raj ini ada dua pesan yang sangat filosofis. Pertama, bahwa isra' dan mi'raj ini menjawab kecemburuan bumi dan langit. Maka semua umat akan menyaksikan betapa kompaknya bumi-langit yang ramah kepada manusia yang beriman. Kedua, peristiwa Isra’ Mi’raj adalah napak tilas Nabi kepada Senior Nabi dengan ziarah plus visualisasi umat dahulu dan masa mendatang. Oleh sebab itu, zaman sekarang yang terpenting bagi generasi muda adalah sowan kepada ulama dan tokoh agama dan berziarah ke makam auliya'. Sebab kisah isra' dan mi’raj mencontohkan hal tersebut, dan yang paling mulia adalah, para Senior Nabi sangat sayang kepada Nabi Muhammad dan umatnya dalam memberikan ilmu negosiasi ketuhanan, dimana shalat yang asalanya 50 menjadi 5 waktu. Itulah hikmah dari berziarah atau sowan serta tawadlu' kepada Senior Nabi.


Mengenal Gus Cholil




Agus Cholil Rahman merupakan putra ketiga dari pasangan K.H. Muhammad Mukti dan Ny. Hj. Permata Ulfah. Cholil Rahman adalah nama yang diberikan oleh Mbah Dim (sebutan santri yang berasal dari jawa untuk K.H. Muhammad Dimyathi al-Bantani). Gus Cholil (sebutan santri untuk beliau) lahir di Sleman, 9 Maret 1992. Gus Cholil memulai rihlah ilmiah dari Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) al-Irsyad al-Islamiyyah 2 Purwokerto. Pada tahun 2004, Gus Cholil telah menyelesaikan pendidikan tingkat dasar dan memilih untuk melanjutkan rihlah ilmiahnya di Surakarta. 

Di Surakarta, Gus Cholil memilih Pondok Pesantren Ta’mirul Islam asuhan K.H. Naharussurur dan Ny.Hj. Muttaqiyah sebagai tempat menimba ilmu agama sekaligus melanjutkan pendidikan tingkat menengah pertama di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ta’mirul Islam Surakarta.

Pada tahun 2007, Gus Cholil dinyatakan lulus dari MTs Ta’mirul Islam Surakarta. Setelah 3 tahun menimba ilmu di Pondok Pesantren sekaligus MTs Ta’mirul Islam, Gus Cholil kemudian melanjutkan pendidikan tingkat menengah atas di kota yang sama, tepatnya di Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta. Pada tahun 2010, Gus Cholil dinyatakan lulus dan memilih untuk melanjutkan rihlah ilmiahnya di Kota Purwokerto. 

Di Purwokerto, Gus Cholil melanjutkan pendidikan tingkat perguruan tinggi di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Gus Cholil tercatat sebagai mahasiswa di Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Unsoed. Selain menjalani kesibukan sebagai seorang mahasiswa, Gus Cholil juga diamanahi oleh Abah untuk menjadi lurah pondok yang pada saat itu dikenal dengan jabatan lurah umum. Pada tahun 2014, Gus Cholil resmi mendapat gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) dari Unsoed. Jiwa haus ilmu Gus Cholil membuatnya tidak puas hanya mendapatkan gelar Sarjana, oleh karenanya Gus Cholil memilih untuk melanjutkan rihlah ilmiahnya di tanah kelahirannya, Yogyakarta. 

Di Yogyakarta, Gus Cholil memilih Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai tujuan rihlah ilmiah selanjutnya. Gus Cholil tercatat sebagai mahasiswa Magister (S2) dengan konsentrasi bidang studi Ekonomi Islam pada Program Pascasarjana (PPs), Magister Ilmu Agama Islam (MIAI), Fakultas Ilmu  Islam (FIAI), UII. Pada tahun 2016, Gus Cholil resmi mendapat gelar Magister Ekonomi (M.E.) dari UII. Kini, Gus Cholil menjalani kesibukan sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam(FEBI), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto. Selain itu, Gus Cholil juga dengan sabar membantu Abah untuk membina santri-santri Pondok Pesantren al-Qur’an al-Amin Pabuwaran (Pondok Pusat), Pondok Pesantren al-Qur’an al-Amin Prompong (Pondok Cabang), dan Pondok Pesantren al-Qur’an al-Amin Purwanegara (Pondok Cabang).


Contact Me

Cari Blog Ini

Link list

Mengenal Tokoh Ulama

Mengenal Sosok Mbah Kiai Abuya Dimyati

Alangkah ruginya kita apalagi kalangan kaum santri apabila tidak mengenal ulama ini. Ulama yang terkenal memiliki kharismatik dan namanya...

Pengikut

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

Adress/Street

Jalan H.R Boenyamin Gg Gunung Sumbing No 13. A Pabuaran Purwokerto Utara

Phone number

********

Website

www.alaminkominfo.blogspot.com