Selamat Datang

Di Pusat Laman Media

Pondok Pesantren Al-Qur'an Al- Amin Paburan

Purwokerto Utara - Banyumas

Jawa Tengah

Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin,
Pabuaran, Purwokerto Utara
Banyumas, Jawa Tengah.

Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin adalah Pondok Pesantren Al-Qur'an yang beralamat di Jalan H.R Boenyamin GG. Gunung Sindoro No. 13 A RT. 04 RW. 02 Pabuaran, Purwokerto Utara Kode Pos 53124

Al-Amin Pabuaran
Keluarga Ndalem

adalah Pengasuh utama dari santri Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin mereka juga sebagai pembimbing dan teladan para santri. Mereka adalah Abah dan Nyai beserta Putra dan putri.

Pembina santri

Mereka adalah yang mengatur dan mengawasi para santri dalam pelaksanaan pembelajaran pondok serta mengamankan para santri.

Pengurus Al-Amin

Mereka adalah yang diberikan tugas oleh Keluarga Ndalem dan Pembina untuk melaksanakan berbagai program kerja yang telah direncanakan,mereka juga bertugas memperlancar kondisifitas dalam pembelajaran pondok pesantren.

Kominfo

Adalah organisasi independen diluar pengurus Al-Amin yang berhubungan dengan komunikasi dan informasi yang berkaitan dengan segala aspek yang berhubungan dengan Pondok Al-Amin.

Madrasah Diniyah

Adalah Organisasi independen yang mengurusi berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran santri,organisasi ini berperan aktif dalam berlangsungnya kegiatan pondok, selain dari pengajian yang langsung diajarkan oleh Abah ataupun Pembina.

TPQ Al-Amin

Adalah organisasi independen yang berkegiatan dalam pengaplikasian ilmu yang diajarkan kepada anak-anak yang berada disekitar desa Pabuaran, organisasi ini tidak berkaitan dengan badan pengurus Al Amin.

Blog Al-Amin

Haflah Khotmil Qur'an

 Haflah Khotmil Qur’an Pondok Pesantren Al-Qur’an Al Amin Pabuwaran, Purwokerto, Banyumas



Pandemi hingga kini belum lenyap dari muka bumi, namun semangat para santri tak luntur akibat wabah ini. Mereka tetap berjuang dalam menuntut ilmu, tinggal dipondok, sholat berjamaah, dan mengaji kitab. Buah dari ketekunan dan perjuangan para santri, pada tanggal 27 November 2021 telah dilaksanakan acara Haflah Khotmil Qur'an PPQ Al Amin Pabuwaran.

Haflah Khotmil Qur’an tahun 2021 yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Al-Qur’an Al Amin Pabuwaran bertempat di halaman parkiran pesantren pada 27 November 2021, tema yang diangkat adalah “Bersama Al Qur’an Raih Mimpi dengan Cinta NKRI”. Acara digelar dengan sederhana namun sangat membawa banyak barokah bagi para santri dan tamu yang hadir karena dirawuhi oleh beliau KH. Zuhrul Anam Hisyam dari Leler dan KH. Muhammad Jawis Masruri Nawawi dari Bantul, Yogyakarta.

Berbagai persiapan dilakukan guna lancarnya acara Haflah Khotmil Qur’an, persiapan tersebut berupa simaan bin nadzri 30 juz dan simaan bil ghoib juz amma yang dilaksanakan sejak tanggal 07-17 November 2021 dengan sistem berkelompok dan disimak oleh teman sekelompok namun dari panitia juga menganjurkan kepada santri yang lainnya untuk ikut menyimak. Selanjutnya ada simaan bil ghoib 30 juz yang dilaksanakan dari tanggal 22-24 November yang dibuka oleh beliau Gus Syafiq Muqoffi menantu Abah Mukti. 

Gambar 2. Kegiatan Simaan 


Simaan merupakan tradisi membaca dan mendengarkan pembacaan Al-Qur'an. Simaan dilakukan agar para penghafal Al-Qur'an dapat melancarkan bacaannya dan bagi penyimak dapat belajar bagaimana cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar serta mendapatkakan pahala seperti pembaca Al-Qur'an. Kegiatan simaan juga mampu meningkatkan kecintaan kita terhadap Al-Qur'an dan memperkuat ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Hasil dari kegiatan simaan ini, diharapkan mampu menjadi motivasi bagi seluruh santri agar tergerak hatinya dan berminat menjadi penghafal Al-Qur'an. Gus Syafiq Muqoffi pernah mengatakan bahwa "Penyimak Al-Qur'an akan diberikan pahala sama seperti orang yang membaca Al-Qur'an" sehingga para santri dianjurkan untuk melestarikan budaya simaan, agar dapat saling belajar dan diharapkan mendapatkan keberkahan dari acara tersebut.



Gambar 3. Penampilan Panggung Gembira


Selain persiapan ada juga rangkaian acara menuju puncak acara yaitu Haflah Khotmil Qur’an yang telah terlaksana pada tanggal 15 November 2021 dengan lancar dan sangat meriah, momen tersebut tentu menjadi hiburan tersendiri bagi para santri khususnya karena bukan hanya menambah semangat namun juga menambah pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan. Rangkaian acara menuju Haflah Khotmil Qur’an diantaranya adalah lomba-lomba seperti lomba solo song dan lomba debat antar santri, kemudian ada panggung gembira pada 25 November yang dimeriahkan dengan penampilan perwakilan santri dan para finalis lomba. Tidak cukup sampai disitu, rangkaian acara dilanjutkan pada malam selanjutnya dengan bershalawat bersama grup Al Banjari Sukarol Munsyid dari Mojokerto Jawa Timur. Acara berlangsung sangat khidmat dan meriah. Warga sekitar pondok dan para alumni turut andil dalam acara tersebut. Bahkan, ada pengunjung yang dari luar Banyumas. 



Gambar 4. Kegiatan Al Amin Bersholawat 


Seluruh pengujung terlihat sangat antusias untuk melantunkan shalawat bersama dengan saling bersahutan dari segala arah. Lantunan sholawat yang sangat merdu dan indah mampu membius suasana di malam itu. Meski hujan membasahi halaman PPQ Al Amin Pabuwaran, namun pengunjung tetap tenang dan khidmat mengikuti bacaan sholawatnya. Puncaknya ketika sang vokal Cak Fandi mengajak para santri menyalakan flashlight handphone dengan menggerakkannya ke arah kanan dan kiri secara bersamaan diiringi shalawat Man Ana, parkiran pesantren yang terlihat ramai karena dekorasi panggung layaknya pelaminan pengantin menjadi lebih aesthetic karena pancaran flashlight yang terlihat seperti cahaya dalam temaram malam. Suasana malam itu terlihat lebih bermakna ketika Cak Fandi berpesan kepada para santri "untuk para santri sebaiknya tetap tinggal di pondok, selalu semangat dan rajin dalam mencari ilmu. Apabila dalam pesantren mendapatkan penyakit maka insyaAllah penyakit tersebut merupakan wasilah untuk menghapus dosa-dosa yang pernah dilakukan selama hidup dan menjadikan berkahnya para santri dalam mencari ilmu di pondok." Jadi, tetap semangat ya.. Jangan mudah mengeluh, karena usaha tidak pernah menghinati hasil. 



Gambar 5. Prosesi Khataman 


Hari Sabtu, 27 November 2021, sampailah pada acara yang sangat dinanti para santri, khususnya para khotimin dan khotimat peserta khataman yaitu malam Haflah Khotmil Qur’an Pondok Pesantren Al-Qur’an Al Amin Pabuwaran tahun 2021. Megahnya dekorasi panggung, silaunya sorot lighting, dan jepretan kamera yang terkadang membuat mata berkedip karena flash nya yang menyala tanpa aba-aba. Semua itu adalah saksi bisu tercapainya sebuah impian dari sekian perjuangan yang tidak ternilai, latihan yang terkadang membuat letih dan membuat mulut menggerutu ternyata memberikan hasil yang sangat memuaskan, mungkin itu adalah bagian penting, namun yang terpenting adalah pengamalan setelah penghafalan. Dawuh Abah Mukti “Orang yang mencari ilmu itu lebih baik daripada orang yang mengerjakan solat 100 rakaat tapi kosong (tanpa ilmu)”. Syahadah sudah berada pada pemiliknya masing-masing, maka akan lebih baik jika lantunan doa dan rangkaian nasihat diberikan kepada para santri bukan hanya khotimin dan khotimat, juga untuk para tamu yang hadir. Prosesi khataman telah selesai, selanjutnya ada lantunan ayat suci Al Qur’an oleh ustadz Ali Mas’ud, terdengar begitu indah dengan suara yang menggemakan telinga. Kemudian tahlil yang dipimpin oleh beliau KH. Jawis yang sangat khidmat, hingga tanpa disadari air mata sampai diujung pelupuk dan menetes karena bersyukur bisa berdoa bersama para ulama. 



Gambar 6. Tausiyah Gus Anam


Paling dinanti adalah nasihat beliau KH. Zuhrul Anam Hisyam pengasuh Pondok Pesantren At Taujieh yang merupakan salah satu menantu Mbah Maimoen Zubair, busananya yang sederhana menggambarkan seorang yang begitu ta’dim terhadap ilmu. Pembawaannya yang berwibawa membuat siapa saja segan untuk menatapnya, ketika beliau sudah berbicara maka seolah telinga sudah siap siaga menangkap dawuhnya untuk disimpan didalam sanubari dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Syaratnya mencari ilmu itu ada 6, cerdas, semangat, sabar, biaya, petunjuk guru, dan waktu yang lama.”  Dawuh Gus Anam, Pesan tersebut yang begitu melekat pada diri para santri, seharusnya tidak hanya melekat namun juga diamalkan agar ilmu yang telah diberikan dapat bermanfaat. Beliau juga menyampaikan "Belajarlah dengan tekun, namun jangan sampai mengganggu ibadah dan beribadahlah dengan rajin, namun jangan sampai mengganggu waktu belajarnya." Khataman hanya akan menjadi sebuah formalitas diatas pentas yang tercantum dalam selembar kertas jika tidak mampu memberi manfaat bagi diri sendiri atau orang lain, namun dari khataman akan memberikan ikhlas jika ilmu yang diperoleh dibalas dengan beribu welas dari Allah SWT. 


Redaktur : Sarah Atika Rahma,  Nur Fitria Aziz

Kunjungi media sosial kami :

Website : alaminkominfo.blogspot.com
Instagram : @ppqalaminpabuwaran
https://www.instagram.com/ppqalaminpabuwaran
Youtube : Ppq Al-Amin Pabuwaran
https://s.id/ppqalaminpabuwaran
Facebook Fans Page : Ppq Al-Amin Pabuwaran
https://www.facebook.com/ppqalaminpabuaran/

Puncak Perayaan HSN di Purwanegara diisi tokoh kartun asal Negeri Jiran




Purwokerto (24/10). Menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan perayaan Hari Santri Nasional tahun 2021 yang jatuh pada tanggal 19 dan 22 Oktober 2021, pengurus PPQ Al-Amin Purwanegara melakukan serangkaian kegiatan yang diadakan guna menyemarakan perayaan ini. Kegiatan ini diawali dengan sosialiasasi kegiatan pada Malam Jum'at kemarin (7/10). Untuk perayaan Hari Santri sendiri, diisi dengan Cek Kesehatan Mata selama 3 sesi yang diikuti oleh kurang lebih 80 santri. Hari pertama pada hari Ahad pagi dengan 25 santri, hari Selasa pagi dengan 25 santri dan sesi terakhir dilaksanakan pada hari Jum'at (15/10). Kegiatan cek kesehatan mata ini merupakan kolaborasi dari Departemen PSDS, Olahraga dan Kebersihan & Kesehatan. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, para santri mengetahui kondisi kesehatan mata mereka dan menjadi sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mata. 



Pada siang harinya (Ahad, 10/10) kita melaksanakan Seminar Motivasi Santri yang diisi oleh Ust.Manafi, dalam seminarnya beliau menghimbau agar kita sebagai santri berjuang sekuat tenaga untuk menghidupkan agama dan pondok. Selain itu, beliau juga memotivasi para santri agar semangat berjuang dan bersabar dalam menuntut ilmu di pesantren. Perlombaan bernada islami seperti Kreasi Nadhom, Musabaqoh Qiroatul Kutub dan juga solo song religi juga diadakan. Selain itu, ada kegiatan games seperti sambung ayat, stafet kardus, estafet air pun sebagai hiburan bagi para santri. 

Malam jum'at diisi dengan pembacaan sholawat oleh Santri Putra PPQ Al-Amin Purwanegara dan seluruh santri baik putra maupun putri. 

"Sebenarnya setiap malam Jum'at juga diadakan pembacaan sholawat al-barzanji, namun kali ini lebih spesial karena ditambah dengan lagu-lagu sholawat. Ya ini sebagai bentuk peringatan Maulid Nabi Agung Muhammad SAW, semoga dengan adanya kegiatan ini bisa menambah rasa cinta kita kepada kanjeng nabi dan menjadikan kita diakui sebagai umatnya, aamiin", pungkas Ketua Panitia


Malam Puncak HSN 2021 dilaksanakan pada hari Sabtu, malam Ahad, tanggal 23 Oktober 2021. Kegiatan ini dibuka dengan pembacaan sholawat, kemudian dilanjutkan dengan penampilan-penampilan dari pada pemenang lomba HSN, ada solo song religi, kreasi nadzom dan juga pembagian hadiah bagi para pemenang. Acaranya meriah karena dikonsep dengan panggung yang penuh warna dan lighting yang gemerlap, selain dihadiri oleh seluruh santri purwanegara acara ini juga dihadiri beberapa tamu dari pabuaran dan promong. Salah satu penampilan yang menarik adalah Kreasi Nadzom. Kreasi Nadzom ditampilkan dengan sangat unik karena para pelantun nadzom mengenakan kostum yang tidak biasa. Yaitu mereka mengenakan topeng salah satu film kartun yang cukup terkenal yang berasal dari negeri Jiran, Malaysia. Selain unik, penampilan ini juga memberi hiburan bagi seluruh santri.


Selain itu, tadi malam juga diadakan penyematan selempang bagi kang dan mbak santri tahun 2021. Untuk Kang Santri sendiri diraih oleh Mas Awaluddin dan Mbak Santri diraih oleh Mba Farah. Kang Mba Santri rencananya akan dilakukan secara bergilir setiap tahun guna menggali bakat dari santri PPQ Al-Amin.

Harapan dari ketua panitia adalah supaya acara perayaan Hari Santri tahun depan lebih baik lagi. "Semoga acara HSN tahun depan lebih baik dan lebih meriah lagi",ucap Mba Riyana selaku Ketua Panitia. 



Redaktur : Ani Musarofah

Kunjungi media sosial kami :

Website : alaminkominfo.blogspot.com
Instagram : @ppqalaminpabuwaran
https://www.instagram.com/ppqalaminpabuwaran
Youtube : Ppq Al-Amin Pabuwaran
https://s.id/ppqalaminpabuwaran
Facebook Fans Page : Ppq Al-Amin Pabuwaran
https://www.facebook.com/ppqalaminpabuaran/


SANTRI


Kebersamaan dan kemandirian menjadi sebuah kelaziman, 

Dimana merelekan separuh waktu demi sebuah ilmu,

Hafalan dan murajaah adalah kebiasaan kami, menjadi ciri khas santri tersendiri.

Menjemput malam hari untuk bermunajat kepada ilahi, 

Sepertiga malam menjadi bukti bahwa inilah kami seorang santri,

Yang selalu mengaharapkan barokah ilmu dari sang murrabi. 


Quran yang menjadi panutan, 

Kitab yang menjadi pegangan, 

Dzikir yang selalu kau ucapkan, 

Munajat yang selalu kau panjatkan, 

Menjadi obat penenang hati, 

Untuk terus mengingat ilahi, 

Menunjukkan bahwa inilah kami, 

Insan yang selalu ingin di akui oleh kyai,

Sampai pada alam akhirat nanti,

Bahwa inilah kami seorang santri.


~ Munawir sadali ~

Al-Amin Bersholawat bersama Habib Ali Al-Munawar



Hari Kamis, 14 Oktober 2021 atau 7 Robbi'ul Awal 1443 telah dilaksanakan acara Al-Amin Bersholawat bersama Habib Ali Al-Munawar dalam rangka Menyambut Maulid Nabi Muhammad saw dan Rutinan Malam Jumat Legi, yang dihadiri oleh seluruh santri baik dari pondok pusat maupun pondok cabang (PPQ Al-Amin Purwanegara dan Prompong). Selain dari santri juga dihadiri oleh Banser sekitar. Acara tersebut berlangsung dengan sangat meriah. 



Acara dimulai pada pukul 20.00 WIB dengan lantunan sholawat yang dibawakan oleh grup Asyiqol Mustofa (AM) yaitu grup hadroh Santri Putri PPQ Al-Amin Pabuwaran. Selanjutnya acara dibuka dengan bacaan Ummul Kitab, lalu lantunan ayat suci Al-Quran beserta sholawat nabi yang dibawakan oleh Saudara Tahrom. Kemudian acara inti yaitu acara Al-Amin Bersholawat bersama Habib Ali Al-Munawar dalam rangka Menyambut Maulid Nabi Muhammad saw dan Rutinan Malam Jumat Legi. Acara dimeriahkan oleh grup hadroh Fajrul Mujtaba (FM) yaitu grup hadroh santri putra yang berkolaborasi dengan Habib Ali Al-Munawar serta 2 partner vokalisnya yaitu Kang Ilham dan Kang Syarif. Selain berbagai macam lantunan sholawat yang dibawakan, pembacaan maulid Simtudduror juga dibacakan pada malam itu. 


Habib Ali Al-Munawar menjelaskan sedikit terkait dengan bagaimana cara umat Islam menumbuhkan rasa cinta terhadap rosulnya yaitu Nabi Muhammad saw. Habib Ali menuturkan bahwa cinta butuh bukti dan pengorbanan. Sama halnya seperti cinta kita terhadap rosul kita yang dapat dibuktikan melalui menjalankan ajarannya serta memperingati hari kelahirannya melalui lantunan sholawat yang diberikan kepadanya. 


"Cinta itu bukan dari mata turun ke hati tapi cinta itu dari hati naik ke mata untuk melihat ketulusan" begitu ujar Habib Ali Al-Munawar dalam memaknai kata Cinta. Harapannya agar kita semua dapat mencintai rosul kita, meski kita tidak melihatnya secara langsung, namun semoga dengan adanya acara ini dapat menambah rasa cinta kita terhadap rosul kita.


Tim Redaktur

Rutinan Malam Jum'at Kliwon dan Peringatan Bulan Muharram


Bukan menambahkan tapi melanjutkan....

Tradisi merupakan kebiasaan yang harus dilestarikan, karena melalui tradisi dapat menimbulkan rasa kekeluargaan. Setiap kelompok orang memiliki tradisi masing-masing, di mana hal tersebut menjadi ciri khas dari sebuah kelompok. Menjalankan tradisi adalah kewajiban dari setiap orang dalam sebuah kelompok, karena dengan melaksanakan nya maka orang tersebut akan diakui oleh anggota yang lain. Namun sangat disayangkan, pada periode zaman yang semakin maju ini membuat tradisi tidak lagi dihiraukan oleh segelintir orang. Kemajuan zaman justru membuat terlena dengan segala pembaharuan yang ada, hal itu yang kemudian dapat terjadi perpecahan antar anggota kelompok.

Berbicara tentang tradisi, Pondok Pesantren Al-Qur'an Al Amin Pabuwaran memiliki tradisi setiap malam Jum'at kliwon. Mujahadah bersama kemudian dilanjutkan dengan salawatan, merupakan rangkaian acara pada malam Jum'at kliwon. Terakhir ditutup dengan makan bersama, hal ini sudah rutin dilakukan selama kurang lebih satu tahun terakhir. Tradisi ini lahir dengan tujuan yang baik, dan merupakan dawuh langsung dari beliau Abah Mukti yaitu pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur'an Al Amin Pabuwaran. Bukan sekedar tradisi, kegiatan malam Jum'at kliwon di isi dengan kegiatan yang bermanfaat dan waktu yang tepat digunakan untuk melangitkan beribu doa kepada Allah SWT.

Berbeda dengan rutinan malam Jum'at kliwon pada bulan-bulan sebelumnya, pada tanggal 26 Agustus bersamaan dengan bulan Muharram maka rutinan diadakan sekaligus peringatan bulan Muharram di mana merupakan salah satu dari bulan yang digolongkan oleh Allah ke dalam bulan yang mulia. Bukan hanya itu yang istimewa, acara tersebut juga mengundang beberapa anggota Banser dan ibu-ibu muslimat warga sekitar pesantren yang menambah ramai serta berkah pada malam Jum'at itu. Tradisi seperti ini yang kemudian akan memunculkan rasa kekeluargaan, bukan hanya antar santri tapi juga dengan warga sekitar dan masyarakat muslim lainnya. 

Harta yang berlimpah dan bongkahan berlian tidak akan berarti jika kepada tetangga saja tidak saling menyapa, karena kemanfaatan dari apa yang kita punya meski sedikit akan lebih penting daripada banyaknya yang kita miliki tapi sama sekali tidak memberi kebaikan untuk yang lain. Hidup di dunia ibarat mampir minum, kata sebait larik dalam sebuah lagu. Maka dari itu, akan lebih baik jika kehidupan ini di isi dengan hal-hal yang memberi kemanfaatan bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Mari, kita sebagai masyarakat yang memiliki tradisi ikut berpartisipasi dalam pelestarian tradisi sebagai bentuk peduli terhadap kehidupan generasi selanjutnya.






Eps 2 : Matahari untuk Ibu

Episode 2

Pict by Pinterest

Bukan awal yang mudah bagi Zen, Pandemi covid-19 mengharuskan semua kegiatan yang dilaksanakan secara tatap muka menjadi serba online. Sebenarnya bukan hanya Zen, hampir seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia juga mengalami hal yang sama. Memakai masker ketika keluar rumah seolah menjadi trend fashion pada masa sekarang ini, sering mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir juga kebiasaan baru dimasa Pandemi covid-19. Menjaga jarak sekarang tak hanya berlaku bagi sepasang kekasih yang jarang bertemu, tapi semua orang juga harus terbiasa dengan ber jarak. 

Sesuai dengan harapan Zen, Jogja menjadi tempat selanjutnya bagi Zen untuk berjuang lebih keras demi mewujudkan segala cita dan asa yang tanpa batas. 

“Halo, assalamualaikum Bu, gimana kabar ibu?”, tanya Zen dengan nada ceria seperti  biasa 

“Waalaikumussalam nduk, Alhamdulillah ibu sehat, Zen gimana kabarnya?” jawaban dari ibu yang begitu melegakan hati Zen. 

”Syukurlah, Zen Alhamdulillah sehat Bu, oh iya Bu, Zen Minggu depan UTS, Zen udah betah kok bu, jadi ibu ndak perlu khawatir, Zen juga udah punya banyak temen lo Bu disini, temen-temen Zen lucu-lucu Bu, mereka berasal dari berbagai daerah, jadinya bahasanya unik-unik, eh maaf ya Bu  Zen khilap, Zen susah berhenti kalo udah ngomong hehe”. Celoteh Zen memang sudah sangat dihafal oleh ibunya, meski begitu Zen selalu mengatakan maaf kepada sang ibu karena mulutnya susah berhenti ketika sudah bercerita. 

“Iya nduk Alhamdulillah kalau begitu, ibu jadi tenang kalau kamu betah dan baik-baik saja disitu, pesan ibu, jangan lupa kalau sama temen harus saling berbagi, akur, dan tau mana yang harus kamu ikuti mana yang tidak". Layaknya wejangan dari ibu untuk anaknya, begitulah ibu Faizatul Fauziah orang yang melahirkan Zen dan memberikan cinta kasih, bahkan dalam setiap hembusan nafas Zen diiringi doa yang tanpa mengharap balasan.

"Iya ibuu, Zen putrimu yang sholilah dan manis ini pasti akan sendiko dawuh pada permaisuri raja Firdaus xixixi”. Muhammad Aly Firdaus, seseorang yang menjadi salah satu alasan Zen selalu kuat berdiri, menatap lebih jauh, berani untuk terus berjalan di atas jalanan berbatu dan berliku, senyum ceria yang tidak pernah Hilang mengukir wajahnya meski mungkin suatu hari nanti akan ada yang mematahkan semangatnya di tengah perjuangan. 

Ya, dia adalah ayah sekaligus panutan bagi Zen, meski ayahnya tak lagi di samping Zen, tapi Zen yakin sang ayah selalu hadir dalam setiap kebahagiaan Zen bahkan kesedihan Zen dan ayah pasti tak pernah lupa mendoakan segala harapan Zen yang Zen terbangkan ke langit. 

“ Zen.... mulai to ngelawaknya, emang yaa putri ibuk yang satu ini nih yang selalu bikin seisi rumah yang awalnya sepi jadi rame”, “Yo jelas to Bu, kan Zen kaya om Sule yang tanpa ngelawak udah lucu xixixi”,

“Halah jaann, iya nduk iya” tawa ringan ibu karena tingkah Zen yang selalu bisa membuat ibu rindu 

“Yo sudah nek gitu udah dulu ya, ibu mau berangkat yasinan rutinan, baik-baik ya nduk, wassalamu’alaikum”.

“siap buu waalaikumussalam”. Obrolan pengobat rindu pun bersambung. 


Di pesantren, Zen memang tidak diperbolehkan membawa HP, jadi setiap Zen ingin mendengar suara lembut ibunya, Zen akan meminjam hp pada pengurus pondok, yaa sekali dalam sebulan setidaknya sudah cukup untuk mengurangi rindu yang menumpuk. 

“Mba Sari ini HP nya, maaf yaa Mba agak lama, biasa laa banyak yang perlu direncanakan untuk masa depan hehe, Terimakasiiiiihhhh Mba Sari cantiiiikkkk”, seperti biasa diakhiri dengan cengiran yang menampilkan gigi kelinci Zen. 

“Iyaa Zen cantik manis dan imut sama-sama, Mba mah paham Zen kalo udah ngomong emang susah direm” Mba Sari ikut senyum karena Zen selalu nyengir dengan khasnya saat berbicara.

”Aseeeekkkk, Mba Sari bisa aja, Zen jadi terbang nih xixixi”. 

“ya sudah sana balik ke kamar lagi, jangan lupa sama pesan- pesan ibukmu”.

“siap Mba Sariii, sekali lagi terimakasih ya Mbaa, Zen ke kamar dulu, assalamualaikum”. 

“Iyaa Zen sama-sama lagii, waalaikumussalam”.

Bukan hal yang sulit bagi Zen untuk beradaptasi dengan lingkungan dan banyak teman, karena sebelumnya Zen sudah pernah nyantri, Zen yang selalu ceria membuat orang-orang di sekitarnya ikut terbawa, sehingga lebih mudah bagi Zen untuk bergaul dengan teman-teman baru dan dikenal Mba-mba pengurus. Jauh dari sang ibu bukan suatu masalah, karena jauhnya adalah mengumpulkan pengetahuan dan menemukan banyak pengalaman, ini tidak akan berakhir menyakitkan. Akan menyakitkan jika Zen terus berada di samping sang ibu namun jika ditanya apa yang nanti  akan Zen persembahkan untuk ibu? Zen hanya mampu terdiam, ini bukan hanya menyakitkan tapi juga menjatuhkan harapan ibu pada Zen. 

Maka dari itu, di pesantren kecil yang bernama Al-Hikmah di bawah asuhan Romo Kyai Ahmad Faqih dan Ibu Nyai Fatimah Hasan inilah Zen berjuang dengan segenap bekal cinta dan kasih tulus sang ibu, serta untaian doa yang mengalir dalam setiap hembusan nafas untuk bisa mewujudkan asa dan harapan yang Zen tulis dalam buku impian, dimana mimpi terakhirnya adalah bisa memakaikan mahkota untuk ayah dan ibu di surga. 

“ Zen, gimana kabar ibukmu?”, 

“Alhamdulillah baik Nay, tapi sayang ngobrolnya Ndak bisa lama, wong ibuk mau berangkat yasinan rutinan”. 

“Halah Zen, masih untung kamu bisa ngobrol, nek lama nanti bisa-bisa habis pulsanya Mba Sari”.

“hahaha bener juga kamu Nay, lagian aku kan cuma numpang yak, gak tau diri dong nek pulsanya sampe habis”. 

“naaahh itu kamu tau, eh Zen nanti malam kira-kira setoran sama Ibu Nyai atau sama Mba-mba pengurus ya?”, 

“hmmm kayanya si sama Mba-mba Nay, soalnya tadi pas aku pulang dari kamar Mba Sari, aku lihat Ibu tindakan sama Abah”, 

“ooo gitu to, yo sudah nek gitu aku mau mandi dulu ya udah sore, kamu ndak mandi Zen?”. 

“Yo mandi to, udah tercium aroma tak sedap ini hehe, aku ngantri kamu yo Nay sekalian”.

“dih cah wedok kok mambu kecut” ledek Naya pada Zen, “eeehh jangan salah, gini-gini juga aku masih keliatan cantip to hahaha”.

“sak karepmu Zeeenn” Naya berlalu meninggalkan Zen yang masih bertahan dengan cengiran khas nya. 

Anaya Falda Salsabila, teman satu kamar Zen yang memang sudah sangat akrab dengan Zen, Naya panggilannya, dia adalah anak yang pendiam, sangat berbanding terbalik dengan Zen, karena sama-sama berasal dari Tulungagung, ngobrol menggunakan bahasa Jawa bukan hal yang sulit bagi Zen dan Naya. Sambil menunggu Naya selesai mandi, Zen murojaah hafalannya, lantunan ayat suci yang menyejukkan hati, membuat siapa saja yang mendengarnya seolah melihat bidadari, karena suara Zen yang lembut ketika beribu ayat Zen lantunkan. 

“Zen, sana mandi, ndek kamar mandi paling pojok yo”.

“eh wes rampung tah, okee siaapp”. Aktivitas murojaah Zen terhenti karena sekarang giliran Zen yang mandi, Zen bergegas ke kamar mandi yang Naya bilang karena Zen sudah tidak sabar menikmati guyuran air kamar mandi, yang menurut Zen dengan mandi akan mengembalikan mood Zen setelah penat seharian yang bukan cuma lelah badan tapi juga pikiran. Selesai mandi Zen berjalan menuju kamar dengan senyuman cerianya seperti biasa, tapi tak disangka sesuatu terjadi.

Bersambung.......

Penerimaan Santri Baru Pondok Pesantren Al Qur'an Al Amin

 


Assalamu'alaikum, teman-teman.

Pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin Pabuwaran tahun 2021 sudah dibuka, looh! Bagi teman-teman yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut terkait pendaftaran santri baru, bisa langsung mengunjungi link pendaftaran yang sudah tertera di brosur, yaa!



Terimakasih! ☺️





Ayo Mondok!


Santri Unggul, Indonesia Makmur!😊

Peringatan Nuzulul Qur'an Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin

 

 

gambar 1 Khataman Al-Qur'an 30 Juz
PPQ Al-Amin Pabuaran

Purwokerto - Mendengar kata Nuzulul Qur’an tidak pernah asing bagi orang muslim, terutama hari itu sangat ditunggu-tunggu di bulan Ramadhan. Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa turunnya Al Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW. Pada hari Rabu-Kamis, 28-29 April 2021/ 16-17 Ramadhan 1442 H. Seluruh Santri Pondok Pesantren Al Qur’an Al Amin baik yang berada di Pusat yaitu Pabuwaran dan pondok cabang seperti Purwanegara dan Perompong bersama-sama memperingati hari tersebut.

Peringatan Nuzulul Qur’an di Pabuwaran dilaksanakan pada hari Kamis, 29 April 2021/ 17 Ramadhan 1442 H pukul 20.15-selesai. Bertempat di halaman utama pondok pesantren, seluruh santri sangat antusias, dalam melaksanakan acaranya. Adapun susunan acaranya meliputi:       

1.       Pembukaan

2.      Pembacaan Al Qur’an oleh seluruh Santri

3.      Pembacaan doa Khotmil Qur’an

4.      Mauidhoh oleh Gus Syafiq Muqoffi

5.      Pembacaan Maulid Al Barzanji oleh Grub Hadroh Fajrul Mujtaba

6.      Penutup


gambar 2 Pembacaan Maulid al-Barzanji
PPQ Al-Amin Pabuaran

Acara ini dibuka dengan membaca surat Al Fatihah atau bertawassul kepada para ‘alim ulama yang dipimpin oleh Gus Syafiq Muqoffi, dilanjutkan khataman Al Qur’an, kemudian mauidhoh yang disampaikan oleh Gus Syafiq Muqoffi, serta pembacaan Maulid Al Barzanji oleh Grub Hadroh Fajrul Mujtaba yang dilanjutkan dengan penutup. Kegiatan peringatan Nuzulul Qur’an berjalan dengan lancar dari awal hingga penghujung acara. Harapan dari kegiatan ini yaitu untuk memeriahkan Nuzulul Quran, dan sebagai ajang tali silaturahim antar santri.

gambar 3 Khataman Al-Qur'an 30 Juz
PPQ Al-Amin Purwanegara

Peringatan Nuzulul Qur’an di Purwanegara dilaksanakan pada hari Kamis, 29 April 2021/ 17 Ramadhan 1442 H pukul 16.00-selesai Bertempat di Mushola Atas Lantai 3, seluruh santri bersemangat, berkumpul dalam satu majelis. Adapun susunan acaranya meliputi :         

1.       Pembukaan

2.       Pembacaan Al Qur’an oleh seluruh Santri

3.       Pembacaan doa Khotmil Qur’an

4.       Mauidhoh oleh Ustadz Manafi

5.       Buka bersama

6.       Penutup

Acara ini dibuka dengan membaca surat Al Fatihah, dilanjutkan khataman Al Qur’an kemudian mauidhoh yang disampaikan Ustadz Manafi, serta buka bersama yang dilanjutkan dengan penutup. Harapan dari kegiatan ini selain memeriahkan Nuzulul Quran, dapat pula terjalin silaturahim antar santri.

 

gambar 4 peringatan Nuzulul Qur'an
PPQ Al-Amin Prompong

Peringatan Nuzulul Qur’an di Perompong dilaksanakan pada hari Rabu, 28 April 2021/ 16 Ramadhan 1442 H pukul 16.00-selesai. Bertempat di Aula Pondok Pesantren Perompong, yang diikuti oleh 16 santri putra dan 27 santri putri. Adapun susunan acaranya meliputi :       

1.       Pembukaan

2.       Pembacaan Al Qur’an oleh seluruh Santri

3.       Pembacaan doa Khotmil Qur’an

4.       Mauidhoh singkat oleh Iman Nur Mahmudi

5.       Buka bersama

6.       Penutup

Acara ini dibuka dengan membaca surat Al Fatihah, dilanjutkan khataman Al Qur’an kemudian mauidhoh singkat yang disampaikan oleh Iman Nur Mahmudi, salah satu santri putra di PPQ Al Amin yang sudah tidak diragukan lagi terkait kemampuannya dalam public speaking. Mauidhoh singkat tersebut berisi tentang peristiwa Nuzulul Qur’an serta amalan yang dilakukan pada malam Nuzulul Qur’an. Setelah kultum selesai dilanjutkan acara buka bersama, sekaligus sebagai acara penutup. Harapan dengan adanya peringatan Nuzulul Quran ini dapat meningkatkan kecintaan kita pada Al Quran serta peringatan keagamaan yang dilakukan di pondok diharapkan dapat mempererat silaturahim antar santri.

Makna memperingati malam Nuzulul Qur'an yaitu mengingatkan kembali pentingnya menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, bisa memotivasi umat Islam untuk selalu membaca Al-Qur'an agar hidupnya berkah. Malam Nuzulul Qur’an memiliki banyak keutamaan, adapun keistiimewaan malam Nuzulul Qur’an, antara lain:

1.       Nuzulul Qur’an merupakan malam yang penuh berkah. Hal tersebut tercantum juga dalam Q.S. Al-Dukhan ayat 3, yang artinya: “ Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi”.

2.       Malam Seribu Bulan: dalam firman Allah Q.S. Al-Qadr ayat 3, yang artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. Maksud dari ‘lebih baik dari seribu bulan’ pada ayat di atas yaitu puasa, amal, dan shalat malam yang dikerjakannya pada malam Nuzulul Qur’an lebih baik dari amalan-amalan yang dikerjakan selama 1.000 bulan.

3.       Turunnya para Malaikat. Seiring dengan turunnya para malaikat, Allah SWT juga menurunkan banyak berkah. Allah berfirman dalam surat Al-Qadr ayat 4 yang artinya: “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan”.

4.       Diampuni Dosa-dosanya. Pada malam Nuzulul Quran dan malam laiatul qadar, siapa saja yang mengerjakan shalat malam pada malam tersebut maka Allah SWT akam mengampuni dosa-dosanya. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah yang bunyinya sebagai berikut: “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”.

Nah, itulah keistimewaan Nuzulul Quran yang perlu kamu tahu. Semoga kita bisa merasakan malam Nuzulul Qur’an dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Alqur’an.


Wallohu a'lam bisshowab

Bulan Suci

Pict by : Kumbang


Lembah rajab merangkai cinta

Merekah mesra ke ufuk sya'ban


Tertera mulia dalam cuaca

Perlahan mangabur ukiran bertahta

Langit yang dalam pun menyapa 

Awan berdesir memanggil-manggil


Kita pun terpenjara dalam naungan

Terjerat hangat kerinduan

Tercampakkan kegelian jiwa

Yang berkata atas nama hamba


Adakah waktu yang sudi,

Sekedar bertemu untuk mengagumi

Pengembara tersadar dari gumam. Terlihat. Romansa senja yang dinantikan 

 Marhaban yaa ramadan




M. Abdul Mufid

Andalusia, April 2021



Eps 1 : Matahari Untuk Ibu

Oleh : Nur Fitria Aziz

Pict by Pinterest

Semburat fajar menyilaukan mata, menembus kaca jendela kamar Zen karena sang ibu sudah membukanya sejak pukul 05:00 tadi pagi. Kebiasaan Zen tidur setelah melaksanakan salat subuh sudah sangat dihafal oleh ibunya, sembari berusaha membuka mata Zen mencoba bangkit dari tempat tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul 06:40, setelah merapikan tempat tidur Zen berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan bersiap melaksanakan salat dhuha.

Sebenarnya Zen bukan pemalas, tetapi kebiasaannya tidur setelah subuh lah yang disayangkan. Meski begitu, ibunya tidak selalu menegurnya, bukan karena memanjakan Zen, tetapi ibunya tau bahwa Zen sering begadang. Duduk diatas sajadah dengan memutar tasbih dan diiringi kalimah-kalimah toyyibah adalah kegiatan Zen ketika keheningan malam tiba, hal ini menjadi kebiasaan karena dulu saat di pesantren hal tersebut menjadi agenda rutinan setelah jamaah salat Maghrib.

“Zen, cobalah untuk mengurangi kebiasaan mu tidur setelah salat subuh. Percuma dong nanti kalo kamu terjaga saat malam tapi kebiasaan buruk mu itu juga kamu lestarikan, kamu ini santri nduk, pasti kamu tau to bagaimana akibatnya tidur setelah salat subuh”.

Pagi ini sarapan Zen bukan hanya nasi dan lauk, namun tambahan bumbu nasihat dari orang terkasih turut mengiringi masuknya makanan ke mulut Zen. 

“iya ibu Zen tau kok, tapi entah kenapa ya Bu, setiap Zen bertekad untuk tidak tidur setelah salat subuh selalu aja ada yang membuat mata Zen berat, jadinya Zen ingin tidur lagi deh hehehe”. Cengiran Zen yang menampakkan dua gigi kelincinya membuat ibu tertawa karena ada secuil kulit cabai menempel di gigi Zen.

“iya Zen ibu paham, tapi tolong ya Zen, tolooong sekali, itu kulit cabainya diilangin dulu”. Masih dengan tawanya sang ibu berjalan ke dapur untuk membereskan piring. 

“ih ibu bilang dong dari tadi, untung kulit cabai yang nyangkut, bukan biji cabai berjajar di gigi xixixi”. “kamu ini bisa aja Zen, selalu saja ada hal yang dibuat lelucon, seperti ayahmu yang paling gak bisa diajak serius”.

Zen kembali teringat ayahnya yang sangat humoris itu, tapi sayangnya Zen hanya bisa mengingat tanpa bisa menatap. Karena sang ayah sudah berada ditempat terindah disisi Allah.

Zen yakin ayahnya sedang ikut tersenyum juga melihat Zen yang semakin beranjak remaja, tapi Zen tak ingin berlarut dalam kesedihan, jadi Zen bertekad untuk membahagiakan orang yang sangat dia cinta yaitu ibunya.

“Masa si Bu ayah gak bisa diajak serius?” tanya Zen pada ibunya, 

“iya nduk, ayah kamu itu kalo ngomong pasti ujungnya adaa aja leluconnya”. “kayanya ayah bisa kok Bu diajak serius, buktinya lahir aku yang cantik, imut dan manis ini hahaha”. Zen kembali memecah tawa sang ibu 

“aduh Zen kamu ini bisa aja, terimakasih ya nak sudah menjadi matahari dalam hidup ibu” pelukan hangat ibu pada Zen membuat Zen semakin berani untuk mewujudkan impiannya membahagiakan sang ibu.

“sama-sama Bu, terimakasih juga karena telah melahirkan ku dan menjadikan ku matahari dalam hidup ibu”.

Suasana pagi yang selalu sama, penuh canda tawa, Zen berharap bukan hanya waktu pagi yang seperti ini, tapi juga siang hingga malam yang menenggelamkan matahari dan memunculkan bulan. 

Zenia Nisa Firdaus Umaiza, gadis cantik blasteran Bandung Tulungagung ini lahir pada 22 Oktober 2004 di kota asal ayahnya yaitu Bandung. Zen adalah anak bungsu, kakaknya yang pertama adalah seorang laki-laki namanya Ahmad Fauzan Firdaus dan kakaknya yang kedua perempuan, namanya Farhana Naya Firdaus. Menjadi anak bungsu tidak membuat Zen harus bermanja pada kakak-kakaknya, tapi justru menjadikannya mandiri dan dewasa. 

Kakaknya yang pertama sudah berkeluarga dan tidak lagi serumah dengan Zen, mas Ozan, begitu panggilan akrabnya di keluarga. Mas Ozan sudah memiliki rumah sendiri dan tinggal bersama istri serta satu orang anak laki-laki yang sangat lucu dan menggemaskan karena umurnya baru satu tahun, sedangkan Mba Naya masih melanjutkan studi S2 di Makassar, berkat ketekunan dan kecerdasan nya, mba Naya mendapatkan beasiswa untuk terus belajar dan mewujudkan cita-citanya menjadi seorang guru. Terakhir yaitu Zen, perjuangannya akan kembali dimulai setelah Zen menyelesaikan 3 tahun penuh cerita di pesantren yang letaknya tak jauh dari rumah.

Selepas jamaah isya ibu dan Zen bersiap untuk makan malam, menu malam ini adalah tempe goreng, sambal ijo, dan sayur sop. Sederhana namun mampu membuat Zen dan ibunya selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan, tidak ada obrolan yang tercipta antara Zen dan ibunya, hanya terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring hingga makan malam selesai. 

"zen bantu ibu membereskan piring ya setelah kamu selesai makan”, titah ibu pada Zen yang masih belum selesai menghabiskan sisa makanan di piring nya.

“iya Bu sebentar lagi ya, ini tinggal dikit lagi kok”.

Seperti yang telah diajarkan oleh sang ibu, setelah selesai makan Zen tidak lupa untuk membalik posisi sendok, kemudian Zen berjalan menuju dapur. 

“nduk, apa kamu sudah ada rencana mau melanjutkan pendidikan mu dimana setelah SMP?” tanya ibu pada Zen ditengah aktivitas mereka membereskan piring, 

Alhamdulillah udah Bu, dan semoga ibu juga setuju ya hehe”. Cengiran khas Zen dengan menampakkan gigi kelinci nya. 

"memangmya mau dimana nduk?”. “di Jogja Bu, Zen pengen sekolah di Jogja, tenang aja Bu, Zen masih mondok kok, boleh kan Bu?” tatapan sendu sang ibu membuat Zen takut melanjutkan keinginannya sekolah di Jogja, namun setelah itu ibu tersenyum tulus, tanda persetujuannya melepas putri bungsunya jauh dari rumah demi melanjutkan perjuangannya meraih cita-cita.

Ibu kemudian berhenti sejenak dari aktivitas nya kemudian menatap putri cantiknya itu, 

“iya nduk ibu izinkan, ibu merestui mu untuk sekolah di Jogja, tapi ingat, saat kamu jauh dari rumah kamu tidak boleh lupa dengan kewajiban mu sebagai seorang anak dan tentunya kamu tidak boleh berhenti belajar karena banyak hal dalam kehidupan yang harus kamu pahami” pesan ibu pada Zen yang menjadi bekal bagi Zen nantinya. 

“siap ibuuu, terimakasih ya Bu, aku akan selalu ingat pesan ibu” Zen memeluk ibunya dengan erat, seolah Zen akan berangkat dalam waktu dekat.




bersambung....

Isra’ Mi’raj (27 Rajab 1442 H)

 Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW






Peristiwa Isra' dan Mi'raj bagi umat Islam menjadi fenomena sejarah yang sungguh luar biasa, terjadi satu tahun sebelum hijrah (10 tahun dari masa diutusnya Sayyid Muhammad sebagai Nabi) pada malam Isnain tanggal 27 Rajab.

Saat Nabi sendirian tidur di rumah Siti Ummi Hani (saudara kandung Sayyidina Ali) datanglah Jibril yang meminta beliau berjumpa dengan Allah. Ada yang menyebutkan Nabi berada di sekitar Masjidil Haram sekitar Hijr Ismail dengan ditemani dua sahabatnya (Hamzah dan Ja'far bin Abi Thalib).

Peristiwa ini begitu cepat dimana dalam waktu semalam menyelesaikan perjalanan jalur darat dan jalur udara. Zona destinasi isra' dan mi'raj adalah titik-titik sejarah para Nabi sebelum Nabi Muhammad. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut adalah bagian dari mu'jizat. Menguji keimanan orang Islam dapat dilakukan dengan bertanya percaya atau tidak terhadap Isra’ Mi’raj. 

Syekh Bisri Musthofa Rembang dalam kitab Tiryaqil Aghyar fi Tarjamati Burdatul Mukhtar menjelaskan bahwa waktu yang ditempuh dalam isra' itu sangat singkat dan mi'raj itu seperti qaba qausaini. Syi'ir yang diterjemahkan dalam bahasa Jawa dengan tulisan pegon oleh Mbah Bisri ini adalah:


سريت من حرم ليلا الى حرم ٭ كما سرى البدر في داج من الظلم


وبتّ ترقى الى ان نلت منزلة ٭ من قاب قوسين لم تدرك ولم ترم

Dalam catatan terjemahan ini, Mbah Bisri menyampaikan indahnya kata qaba qausaini yang secara lahiriyah bermakna "ujungnya dua pucuk". Padahal ibrah ini adalah terbalik, yang seharusnya qaba qausi, artinya menjadi dua pucuk.

Ada empat kitab yang secara spesifik menjelaskan Isra’ Mi’raj: 1) Qishshah Mi'rajin Nabi karya Syekh Najmudin Al Ghoidzi: 2) Tashilul Ghiba min Qissatil Isra' wa Mi'rajin Nabi karya Syekh Sahli bin Salim Assamarani: 3) I'anatul Muhtaj fi Qishshatil Isra' wal Mi'raj karya Syekh Ahmad Abdul Hamid Al Qandali: 4) Nurus Siraj fi Bayanil Isra' wal Mi'raj karya Syekh Ahmad Fauzan bin Zain Muhammad bin Muhamma Zain Arrambani.

Dalam kitab itu dijelaskan secara rinci bagaimana proses isra' dan mi'raj itu terjadi. Sehingga etnografi Isra’ Mi’raj dapat dirasakan dengan baik dan umat Islam di masa kini masih menikmati kemukjizatan Nabi Muhammad. Syekh Ahmad Abdul Hamid Kendal mengurai terlebih dahulu keutamaan bulan Rajab sebagai bulan mulia diantara dua belas bulan lainnya. Sebab di bulan Rajab itu banyak peristiwa sejarah, termasuk selamatnya kapal Nabi Nuh. Lokasi dimana Nabi singgah saat isra' secara detail disebutkan oleh Mbah Ahmad Abdul Hamid. Termasuk saat mi'raj juga secara rinci dijelaskan. Dimana alasan mi'raj oleh Mbah Ahmad disebutkan bahwa adanya kecemburuan antara langit dan bumi yang saling "poyok-pinoyok" (Jawa: mengejek satu dan lainnnya).

Sebab bumi merasa paling mulia karena dihuni oleh Nabi Muhammad. Langitpun akhirnya minta pada Allah agar Nabi Muhammad diperkenankan singgah kesana. Dan itulah yang dikabulkan Allah dalam peristiwa mi'raj. Syekh Sahli Semarang juga menjelaskan kisah yang sama. Bahwa peristiwa isra' dan mi'raj berjalan sangat cepat dengan segudang kisah yang diceritakan. Kepergian Nabi tengah  malam dan selesai menjelang subuh sudah berada kembali ke Kota Makkah.

Bahkan proses kehadiran Nabi di rumah Ummi Hani hingga Nabi langsung menuju Masjidil Haram untuk mengisahkan apa yang dialaminya juga disinggung dalam kitab Tashilul Ghiba. Syekh Ahmad Fauzan Rembang menyinggung bahwa peringatan Isra’ Mi’raj itu diperingati dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan kebiasan masyarakat. Termasuk cara mengkaji Isra’ Mi’raj disebutkan ada tiga model yaitu modern, sederhana dan kolot. Ini menunjukkan bahwa kisah Isra’ Mi’raj itu akan tetap menarik dikaji dari sisi apapun. Sebab itu adalah peristiwa langka yang diabadikan dalam surat al Isra ayat 1 dan surat an Najm ayat 1-17.

Maka wajar bagi mereka yang tidak mengikuti jejak Nabi tidak akan percaya dengan kisah ini. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Najmuddin Al Ghoizi bahwa orang yang tidak beriman, tidak akan percaya sebagaimana Abu Jahal dan orang kafir Quraisy yang menyebut Nabi sebagai tukang sihir (faramauhu bis sihr). Jika zaman dahulu sudah ada kelompok yang kufur terhadap Isra’ Mi’raj, maka peristiwa yang sudah hampir 14 abad berlalu itu masih ada yang tidak percaya itu wajar. Dan pasti, mereka yang tidak percaya adalah bukan orang yang beriman. Sedangkan bagi Muslim yang beriman, wajib percaya adanya Isra’ Mi’raj.

Dari kisah Isra’ Mi’raj ini ada dua pesan yang sangat filosofis. Pertama, bahwa isra' dan mi'raj ini menjawab kecemburuan bumi dan langit. Maka semua umat akan menyaksikan betapa kompaknya bumi-langit yang ramah kepada manusia yang beriman. Kedua, peristiwa Isra’ Mi’raj adalah napak tilas Nabi kepada Senior Nabi dengan ziarah plus visualisasi umat dahulu dan masa mendatang. Oleh sebab itu, zaman sekarang yang terpenting bagi generasi muda adalah sowan kepada ulama dan tokoh agama dan berziarah ke makam auliya'. Sebab kisah isra' dan mi’raj mencontohkan hal tersebut, dan yang paling mulia adalah, para Senior Nabi sangat sayang kepada Nabi Muhammad dan umatnya dalam memberikan ilmu negosiasi ketuhanan, dimana shalat yang asalanya 50 menjadi 5 waktu. Itulah hikmah dari berziarah atau sowan serta tawadlu' kepada Senior Nabi.


Mengenal Gus Cholil




Agus Cholil Rahman merupakan putra ketiga dari pasangan K.H. Muhammad Mukti dan Ny. Hj. Permata Ulfah. Cholil Rahman adalah nama yang diberikan oleh Mbah Dim (sebutan santri yang berasal dari jawa untuk K.H. Muhammad Dimyathi al-Bantani). Gus Cholil (sebutan santri untuk beliau) lahir di Sleman, 9 Maret 1992. Gus Cholil memulai rihlah ilmiah dari Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) al-Irsyad al-Islamiyyah 2 Purwokerto. Pada tahun 2004, Gus Cholil telah menyelesaikan pendidikan tingkat dasar dan memilih untuk melanjutkan rihlah ilmiahnya di Surakarta. 

Di Surakarta, Gus Cholil memilih Pondok Pesantren Ta’mirul Islam asuhan K.H. Naharussurur dan Ny.Hj. Muttaqiyah sebagai tempat menimba ilmu agama sekaligus melanjutkan pendidikan tingkat menengah pertama di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ta’mirul Islam Surakarta.

Pada tahun 2007, Gus Cholil dinyatakan lulus dari MTs Ta’mirul Islam Surakarta. Setelah 3 tahun menimba ilmu di Pondok Pesantren sekaligus MTs Ta’mirul Islam, Gus Cholil kemudian melanjutkan pendidikan tingkat menengah atas di kota yang sama, tepatnya di Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta. Pada tahun 2010, Gus Cholil dinyatakan lulus dan memilih untuk melanjutkan rihlah ilmiahnya di Kota Purwokerto. 

Di Purwokerto, Gus Cholil melanjutkan pendidikan tingkat perguruan tinggi di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Gus Cholil tercatat sebagai mahasiswa di Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Unsoed. Selain menjalani kesibukan sebagai seorang mahasiswa, Gus Cholil juga diamanahi oleh Abah untuk menjadi lurah pondok yang pada saat itu dikenal dengan jabatan lurah umum. Pada tahun 2014, Gus Cholil resmi mendapat gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) dari Unsoed. Jiwa haus ilmu Gus Cholil membuatnya tidak puas hanya mendapatkan gelar Sarjana, oleh karenanya Gus Cholil memilih untuk melanjutkan rihlah ilmiahnya di tanah kelahirannya, Yogyakarta. 

Di Yogyakarta, Gus Cholil memilih Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai tujuan rihlah ilmiah selanjutnya. Gus Cholil tercatat sebagai mahasiswa Magister (S2) dengan konsentrasi bidang studi Ekonomi Islam pada Program Pascasarjana (PPs), Magister Ilmu Agama Islam (MIAI), Fakultas Ilmu  Islam (FIAI), UII. Pada tahun 2016, Gus Cholil resmi mendapat gelar Magister Ekonomi (M.E.) dari UII. Kini, Gus Cholil menjalani kesibukan sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam(FEBI), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto. Selain itu, Gus Cholil juga dengan sabar membantu Abah untuk membina santri-santri Pondok Pesantren al-Qur’an al-Amin Pabuwaran (Pondok Pusat), Pondok Pesantren al-Qur’an al-Amin Prompong (Pondok Cabang), dan Pondok Pesantren al-Qur’an al-Amin Purwanegara (Pondok Cabang).


Pelantikan Badan Independen PPQ Al Amin Pabuwaran berjalan khusyuk


PURWOKERTO-Pergantian pengurus dari pengurus lama ke pengurus baru selalu di laksanankan setiap tahunnya sebelum sah menjadi seorang pengurus perlu adanya pelantikan terlebih dahulu

Miftahul Rohmat (23) selaku Lurah Pondok Pesantren Al-Quran Al Amin mengatakan bahwa, Badan Independen merupakan badan yang berdiri di luar kepengurusan pondok yang masing-masimg fokus pada satu bidang terdapat tiga badan independen yang di lantik pada kali ini yakni Kominfo, Madin dan TPQ. 

“badan independen itu lembaga selain pengurus pondok putra purti yang sudah punya tugas masing-masing ada kominfo atau komunikasi dan informasi itu mengurusi akun media sosial instagram fb dan yang lainnya terus ada Madin atau madrasah diniyah mengurusi media pembelajaran di pondok dan yang terakhir ada TPQ atau taman pendidikan Al-Quran yang mengurusi anak-anak kecil yang ikut mengaji di pondok” (25/2)

Pengucapan ikrar di pimpin langsung oleh Gus syaviq Muqoffi beliau adalah menantu Pengasuh pondok Pesantren Al Amin Pabuwaran KH. Muhammad Mukti. 

Sedikit berbeda dari tahaun-tahun sebelumnya pengucapan ikrar ini di lantunkan dengan menggunakan bahasa Arab yang membuat suasana sakral dan khusyuk.

“oh ya ikrar nya tadi sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya tadi menggunakan bahasa Arab tentunya menambah ke istimewaan, kesakralan, dan ke khusyuan pelantikan tadi”, pungkasnya. 

Lurah pondok berharap agar kepengurusan di tahun ini bisa di ajak bekerjasama dengan pengurus pondok lebih baik lagi dari pengurus sebelumnya dan tentunya harus lebih semangat. (silfi)


Contact Me

Cari Blog Ini

Link list

Mengenal Tokoh Ulama

Mengenal Sosok Mbah Kiai Abuya Dimyati

Alangkah ruginya kita apalagi kalangan kaum santri apabila tidak mengenal ulama ini. Ulama yang terkenal memiliki kharismatik dan namanya...

Pengikut

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

Adress/Street

Jalan H.R Boenyamin Gg Gunung Sumbing No 13. A Pabuaran Purwokerto Utara

Phone number

********

Website

www.alaminkominfo.blogspot.com