Selamat Datang

Di Pusat Laman Media

Pondok Pesantren Al-Qur'an Al- Amin Paburan

Purwokerto Utara - Banyumas

Jawa Tengah

Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin,
Pabuaran, Purwokerto Utara
Banyumas, Jawa Tengah.

Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin adalah Pondok Pesantren Al-Qur'an yang beralamat di Jalan H.R Boenyamin GG. Gunung Sindoro No. 13 A RT. 04 RW. 02 Pabuaran, Purwokerto Utara Kode Pos 53124

Al-Amin Pabuaran
Keluarga Ndalem

adalah Pengasuh utama dari santri Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin mereka juga sebagai pembimbing dan teladan para santri. Mereka adalah Abah dan Nyai beserta Putra dan putri.

Pembina santri

Mereka adalah yang mengatur dan mengawasi para santri dalam pelaksanaan pembelajaran pondok serta mengamankan para santri.

Pengurus Al-Amin

Mereka adalah yang diberikan tugas oleh Keluarga Ndalem dan Pembina untuk melaksanakan berbagai program kerja yang telah direncanakan,mereka juga bertugas memperlancar kondisifitas dalam pembelajaran pondok pesantren.

Kominfo

Adalah organisasi independen diluar pengurus Al-Amin yang berhubungan dengan komunikasi dan informasi yang berkaitan dengan segala aspek yang berhubungan dengan Pondok Al-Amin.

Madrasah Diniyah

Adalah Organisasi independen yang mengurusi berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran santri,organisasi ini berperan aktif dalam berlangsungnya kegiatan pondok, selain dari pengajian yang langsung diajarkan oleh Abah ataupun Pembina.

TPQ Al-Amin

Adalah organisasi independen yang berkegiatan dalam pengaplikasian ilmu yang diajarkan kepada anak-anak yang berada disekitar desa Pabuaran, organisasi ini tidak berkaitan dengan badan pengurus Al Amin.

Blog Al-Amin

Semarak Agustus-an Ala Santri Al-Amin

 

Semarak Agustus-an Ala Santri Al-Amin

17 Agustus dikenal dengan Hari Kemerdekaan Indonesia. Biasanya, pada hari itu dihelat berbagai kegiatan seperti upacara, perlombaan, dan festival. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memupuk rasa cinta tanah air dan memperingati jasa para pahlawan yang telah berjuang di medan perang.

Meskipun di tahun ini perayaan kemerdekaan RI berada di tengah pandemi Covid-19, namun tidak menyurutkan semangat para santri di Pondok Pesantren Al-Quran Al-Amin untuk ikut merayakan peringatan tersebut meskipun hanya di area pondok pesantren.

Di pondok pusat (Pabuwaran) diadakan upacara bendera dan berbagai perlombaan baik untuk santri putra maupun putri. Perlombaan untuk santri putra diantaranya yaitu balap sarung, balap karung, futsal, badminton (tunggal dan berpasangan), tenis meja (tunggal dan berpasangan). Sedangkan perlombaan untuk santri putri terdiri dari badminton, voli, balap karung, injak kardus, sarung berantai, futsal, dan film pendek. pada perlombaan putri, lomba voli dimenangkan oleh komplek gedung baru lantai 3, lomba futsal dimenangkan oleh komplek bambu 12, lomba balap karung dimenangkan oleh komplek gedung baru lantai 3, lomba sarung berantai dimenangkan oleh komplek perpustakaan, lomba injak kardus dimenangkan oleh komplek cabang, lomba badminton dimenangkan oleh komplek pusat balkon, dan lomba film pendek dimenangkan oleh komplek pusat balkon.

Perayaan hari kemerdekaan tidak hanya diadakan di pondok pusat (Pabuwaran) saja namun juga di pondok cabang (Purwanegara). Di pondok cabang (Purwanegara), kegiatan diawali dengan acara pembukaan kemudian dilanjut dengan perlombaan yang meliputi gobak sodor, ular tangga balon, ansambel musik, sambung ayat, makan kerupuk, tebak barang, senam, puisi, dan film pendek.

Dikarenakan banyak santri yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sehingga jumlah santri sedikit, maka perlombaan dibuat sistem tim. Satu tim terdiri dari beberapa kamar sehingga dihasilkan 6 tim dalam satu pondok. Kejuaraan terdiri dari tiga kategori yaitu juara umum yang dimenangkan oleh tim 1, kategori tim terajin dimenangkan oleh tim 3, dan kategori tim terheboh dimenangkan oleh tim 4.

Rangkaian Peringatan Hari Kemerdekaan RI ditutup dengan adanya acara malam puncak baik di pondok pusat maupun cabang yang diadakan pada 27 Agustus 2020. Pada malam puncak lah kejuaraan dari masing-masing lomba diumumkan kepada seluruh santri.

MENGENAL NING MIA







Ning Siti Machmiyah al-Hafizhah (Ning Mia) merupakan putri pertama dari pasangan  K.H. Muhammad Mukti dan Ny.Hj. Permata Ulfah. Ning Mia lahir di Boyolali pada 6 Syawal 1408 Hijriyah atau bertepatan dengan 22 Mei 1988 dalam kalender Masehi. Sebagaimana putri Kyai pada umumnya, pendidikan pertama Ning Mia didapat langsung dari Ayahandanya, yakni K.H. Muhammad Mukti di Pondok Pesantren al-Quran al-Amin Pabuwaran. Setelah usia Ning Mia cukup untuk menempuh pendidikan tingkat dasar, Ning Mia mendaftar dan resmi menjadi siswa di Sekolah Dasar (SD) al-Irsyad al-Islamiyyah 2 Purwokerto pada tahun 1994 dan lulus pada tahun 2000. Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat dasar, Ning Mia melanjutkan pendidikan tingkat menengah pertama di Sekolah Menengah Pertama (SMP) al-Irsyad al-Islamiyyah Purwokerto pada tahun 2000 dan lulus tiga tahun kemudian, yakni pada tahun 2003. Setelah lulus dari SMP al-Irsyad al-Islamiyyah Purwokerto, Ning Mia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan keilmuannya di Surakarta. Di Surakarta, Ning Mia memilih Pondok Pesantren al-Quraniyy Mangkuduyan dan SMA al-Islam 1 Surakarta sebagai tempat untuk menimba ilmu. Dalam kurun waktu tiga tahun, Ning Mia menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atasnya, tepatnya pada tahun 2006 dan diwaktu yang beriringan, Ning Mia diterima di jurusan Sastra Arab, Fakutas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun setelah berkonsultasi dengan Ayahanda, Ning Mia akhirnya memilih jurusan Ilmu Komunikasi (Ilkom), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Univeritas Jenderal Soedirman (Unsoed) sebagai tempat menimba ilmu selanjutnya. Pada tahun 2006 Ning Mia dinyatakan resmi menjadi mahasiswa dan empat tahun kemudian Ning Mia dinyatakan resmi menyandang gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom) dari jurusan Ilkom, FISIP, Unsoed. Bagaikan berjodoh dengan UGM, meski pendidikan tingkat perguruan tinggi Strata 1 (S1) Ning Mia tidak ditempuh di UGM, namun Ning Mia akhirnya resmi menjadi mahasiswa Program Pascasarjana (PPs), Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP, UGM pada tahun 2010. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2012, Ning Mia telah menyelesaikan program magisternya dan berhak menyandang gelar Master of Arts (M.A.). Selain menempuh pendidikan formal di UGM, ketika di Yogyakarta, Ning Mia juga menjalani kehidupan sebagai santri di Pondok Pesantren Wahid Hasyim dan Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak. Pada tahun 2015, Ning Mia menyelesaikan hafalan 30 juz al-Quran beliau. Sesuai janji dari Ayahanda beliau, K.H. Muhammad Mukti, bila mampu menyelesaikan hafalan 30 juz al-Quran, maka akan diberangkatkan umrah. Namun berkah dari selesainya hafalan 30 juz al-Quran Ning Mia, tidak hanya Ning Mia saja yang diberangkatkan umrah, adik-adik beliau juga diikutsertakan. Sehingga pada saat itu, seluruh keluarga Ndalem yang terdiri dari, Abah, Ibu, Ning Mia, Gus Aam, Gus Cholil, Gus Fajrul, dan Gus Arsyad bersama-sama menjalankan ibadah umrah. Di tahun 2015 jugalah Ning Mia dipersunting oleh Gus Syaviq. Berawal dari pertemuan yang dilakukan oleh kedua belah pihak keluarga, Gus Syaviq hendak bermaksud melamar Ning Mia. Kemudian atas keputusan dari Ayahanda Ning Mia, K.H. Muhammad Mukti yang menghendaki untuk melangsungkan akad nikah pada saat itu juga, maka pihak keluarga memohon kepada K.H. Thoha Alawy al-Hafizh (Pengasuh Pondok Pesantren ath-Thohiriyah) untuk berkenan menjadi penghulu dan akad nikahpun berlangsung dengan sederhana dan khidmat. Kini, selain sibuk mendampingi sang suami, Gus Syaviq untuk membimbing santri dan mendidik sang buah hati, Qaff Muhammad Alnazeeh, Ning Mia juga sibuk menjadi dosen di Jurusan Ilmu Komunkasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta dan mahasiswa program pendidikan Doktor di Program Studi Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana, UGM. Kesibukan merintis usaha bersama sang suami pun tidak luput menjadi rutinitas keseharian beliau. Ning Mia juga tergabung dalam organisasi Fatayat Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta.

MENGENAL NING SOLI SOLIHAT


Ning Soli Solihat

    Ning Soli yang memiliki nama lengkap Soli Solihat merupakan menantu kedua KH. Muhammad Mukti dan Ny. Hj. Permata Ulfah. Nama Soli Solihat sendiri memiliki arti perempuan pembawa rahmat yang solihah (Soli = pembawa rahmat, Solihat = perempuan solihah). Ning Soli lahir di Tasikmalaya, 4 September 1996 bersama dengan saudara kembarnya yang bernama Sola Sonia. Pada tahun 2003-2009, Ning Soli bersekolah di SDN 1 Cipanengah. Lalu tahun 2009 Ning Soli melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di SMPN 1 Pancatengah hingga tahun 2012. Di tahun 2012-2015 Ning Soli melanjutkan sekolah di SMAN 1 Tasikmalaya. Kemudian tahun 2015 Ning Soli diterima di Universitas Jenderal Soedirman sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Ekonomi dan berhasil lulus dengan predikat cumlaude pada tahun 2019. Ning Soli dengan saudara kembarnya selain menempuh pendidikan nonforlma, keduanya juga menempuh pendidikan di dunia pesantren, sebut saja Pondok Pesantren Hidayatul Falah, Bihbul, Pancatengah; Hidayatul ‘ulum, Awipari, Tasikmalaya; dan terakhir Pondok Pesantren Al-Quran Al Amin, Pabiwaran, Purwokerto Utara. Mengenal Ning Soli tidaklah cukup hanya sekedar pendidikannya saja. 

Ning Soli lahir dari keluarga yang bahagia. Ayahnya yang bernama Abdul Kohar adalah seorang santri dari Pondok Pesantren Khoirul Huda, Paseh, Pancatengah dan Mama nya yang bernama Cucu Muawanah pun adalah seorang santri yang dalam perjalanan hidup Beliau menempuh pendidikan sebagai santri di Pondok Pesantren Al-Hasanah CintaPada, Tasikmalaya. Ayah Ning Soli adalah seorang penjahit sukses. Bagaimana tidak sukses, pelanggan Beliau merupakan ulama-ulama besar, dan para anggota dewan pun turut serta menjadi pelanggan Beliau. Jahitannya yang rapih, serta penerimaan yang sopan dan santun dari Mama Ning Soli menjadikan para pelanggan nyaman. Bisnis menjahit ini bukan hanya sekedar bisnis, melainkan juga sebagai wasilah keluarga Ning Soli agar dekat dengan banyak ulama, mendapat barokah yang dibawakan oleh para ulama – ulama. Kaka Ning Soli (Aa, sapaan Ning Soli) yang bernama Muhammad Irpan Rifa’i dari kecil selain mempuh pendidikan formal juga menempuh pendidikan di Pondok Pesantren. Kehidupan Aa dari kecil tidak lepas dari pendidikan Pondok, karena pesan Ayah nya Tidak penting pendidikan formal, jika pendidikan Pesantren tidak pernah di lalui. Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan Pondok adalah hal yang sangat penting, meski pendidikan formal juga penting. Aa menjadi seorang santri tidak hanya di satu Pondok Pesantren saja, namun ada beberapa yakni, Pondok Pesantren Baitul Hikmah, Haur Kuning, Salopa; Pondok Pesantren Hidayatul Falah, Bihbul, Pancatengah; Pondok Pesantren Khoirul Huda, Paseh, Pancatengah; Pondok Pesantren Al-Hasanah, Cibeti, Tasikmalaya; Pondok Pesantren Al-Hasanah, Situbodol, Pancatengah. Kiprahnya Aa di dunia pesantren, tidak diragukan lagi, kepandaiannya pada ilmu alat (nahwu shorof) membuat Beliau di tawari menjadi salah satu ustadz di Pondok Pesantren yang dekat dengan rumah Beliau (KH Uus, Pengasuh Pondok Pesantren). Perjalanan Beliau sebagai ustadz cukup sukses, karena selain mendapat barokah Kyai, Beliau juga meminang salah satu santri nya yang bernama Maya. Setelah menikah Aa dan istri berpindah ke tempat sang istri, di sana Beliau menghidupkan masjid dengan membangun sebuah madrassah. Sukses mendidik Aa menjadi seorang yang ‘alim, Ayah dan Mama masih harus membuat kedua putri kembarnya sukses baik dalam hal keduniawian maupun akhirat. Hal ini dibuktikan dengan kedua putrinya yang menikah dengan anak Kyai. Tidak hanya sampai pada menikah, tetapi putri pertamanya (Teh Sola, sapaan Ning Soli) menikah dengan seorang anak Kyai Pondok Pesantren Miftahul Hidayah, Cibalong, Tasikmalaya yang bernama Gus Aji Ahmad Fauzi Dakhlan. Pada saat pernikahan Teteh Sola dengan suami, banyak ulama yang dateng mendoakan kebahagiaan untuk kedua mempelai. Teh Sola mendapat amanah untuk mengajar kelas ilmu alat (jurumiyah), yang memang tidak diragukan lagi. Karena pada saat masih di Pondok Pesantren Al –Quran Al- Amin juga mengajar kelas nahwu. Selain mengajar dikelas ilmu alat, kehadiran Teh Sola juga memberikan sedikit perubahan di SMPTerbuka, contohnya adalah penggunaan komputer dan internet, yang dulu masih manual, sekarang menjadi menggunakan internet. Lalu Putri kedua Beliau (Ning Soli, sapaan santri PPQ Al-Amin). Pada saat pernikahan Ning Soli dengan Gus Aam yang berlansung malam haripun hampir tengah malam, banyak ulama yang turut hadir untuk mendoakan keberkahan pernikahan keduanya. Ning Soli saat ini sedang menjalani kesubukan dengan mengurus rumah tangga dan berusaha berbakti dengan keluarga. Ning Soli juga sempat mengajar Kitab Ta’lim Muta’alim di Pondok Pesantren Al-Quran Al Amin Pabuwaran (cabang Purwanegara). Ning Soli mengaku mengalami perubahan saat sebelum dan sesudah menikah. Saat belum menikah, Ning Soli masih bergantung pada orang tua. Namun, sekarang Ning Soli harus berbagi kehidupan dengan orang lain (suaminya). Ning Soli merasa bersyukur memiliki suami yang merupakan putra dari KH. Muhammad Mukti yang dianggap sebagai guru terhebat bagi Ning Soli. Ning Soli berharap dapat mendapatkan kemuliaan dan keberkahan dari Abah Mukti. 

Bukan sebuah tirakat besar mendapatkan menantu anak seorang Kyai dan anak laki-lakinya sebagai ustadz, hanya doa yang sering dipanjatkan kedua orang tualah yang menjadi senjata ampuh untuk mendapatkan kebahagiaan anak-anaknya. Tidak hanya sekedar doa biasa, namun doa yang sangat mudah di’ijabah yakni doa seorang ibu untuk anak-anaknya yang sholeh dan sholehah. Bukan hanya doa orang tua, tetapi doa dari para ulama yang telah menjadi pelanggan setia Ayahnya, yang tidak sungkan-sungkan untuk mendoakan agar anak-anak Beliau mendapatkan pasangan yang sholeh dan sholehah. Wejangan Ning Soli selalu pegang dari ibunya adalah Selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah swt, apapun itu. Perjuangkanlah kehormatanmu demi diri kamu sendiri, perjuangkanlah agamamu demi Tuhanmu, perjuangkanlah cita-citamu demi masa depanmu.

MENGENAL GUS SYAVIQ MUQOFFI


Agus Syaviq Muqoffi al-Hafizh bin Abdul Wachid Badrussholeh bin Badrus Sholeh bin Arif merupakan putra menantu pertama dari K.H. Muhammad Mukti dan Ny.Hj. Permata Ulfah. Gus Syaviq (sapaan santri untuk beliau) lahir di Nganjuk, 23 Agustus 1987. Gus Syaviq merupakan putra dari pasangan K.H. Abdul Wachid Badrussholeh (Abah Wachid) dan Ny.Hj. Nur Abidah. Abah Wachid adalah pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren al-Khoiriyah yang terletak di Dusun Jati, Desa Katerban, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk. 

Selain mengadakan pendidikan non-formal (agama), seperti Taman Pendidikan Quran (TPQ) dan Madrasah Diniyah (MADIN), Pondok Pesantren al-Khoiriyah juga mengadakan pendidikan formal (umum), seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Seluruh lembaga pendidikan formal maupun non-formal tersebut berada dalam naungan Yayasan al-Khoiriyah Baron. 

Pada tahun 2013, Abah Wachid terpilih menjadi Wakil Bupati Nganjuk periode 2013-2018. Ketika masa jabatan Abah Wachid sebagai Wakil Bupati akan berakhir dalam hitungan kurang dari 6 bulan, Abah Wachid ditunjuk oleh Gubernur Jawa Timur saat itu untuk menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Nganjuk sampai berakhirnya periode kerja Bupati dan Wakil Bupati Nganjuk periode 2013-2018. 

Mengenal Gus Syaviq tidak lengkap bila hanya menampilkan sosok Abah Wachid, tanpa menampilkan sosok kakek dari Gus Syaviq sekaligus ayahanda dari Abah Wachid, yakni K.H. Badrus Sholeh. K.H. Badrus Sholeh merupakan putra dari pasangan Kyai Arif bin Kyai Hasan Alwi bin Pangeran Diponegoro dan Nyai Sukarsih/Sriatun binti Kyai Hasan Muhyi (pendiri Pesantren Kapurejo). 

Selain memiliki nasab yang mulia, K.H. Badrus Sholeh juga memiliki sanad yang bersambung kepada gurunya, yakni Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asyari (Rais Akbar Nahdlatul Ulama). K.H. Badrus Sholeh adalah salah satu murid yang diamanahi oleh Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asyari untuk membekali dan menggembleng para pejuang kemerdekaan (santri dan prajurit) sebelum berperang melawan penjajah Belanda. K.H. Badrus Sholeh dikenal sebagai sosok kyai yang tegas, hal tersebut terlihat dari sikap beliau yang tegas memperingatkan bahaya laten Partai Komunis Indonesia (PKI) dan memerangi para pengikutnya pada saat Indonesia ramai kasus PKI yang meresahkan masyarakat. K.H. Badrus Sholeh merupakan perintis sekaligus pendiri Pondok Pesantren al-Hikmah Purwoasri, Kediri. Seiring berjalannya waktu, Pondok Pesantren al-Hikmah berkembang menjadi 6 unit di bawah asuhan putra-putri dari K.H. Badrus Sholeh. Pondok Pesantren al-Hikmah (pondok induk) di bawah asuhan K.H. Zaimuddin Badrussholeh (Putra Sulung) dan K.H. Fathu Karim Badrussholeh (Putra Bungsu), Pondok Pesantren al-Khoiriyah di bawah asuhan K.H. Abdul Wachid Badrussholeh (Putra Kedua), Pondok Pesantren al-Badriyah di bawah pengawasan Ny.Hj. Lilik Nur Cholidah Badrussholeh (Putri Ketiga), Pondok Pesantren Tahfidhul Quran di bawah pengawasan K.H. Abdun Nashir Badrussholeh (Putra Keempat), Pondok Pesantren Ahmada di bawah pengawasan K.H. Ahmad Dain Arif Badrussholeh (Putra Kelima), Pondok Pesantren Roudhotul Quran di bawah asuhan K.H. Muhammad Yahya Badrussholeh (Putra Keenam), dan Pondok Pesantren al-Hikmah 2 di bawah asuhan K.H. Nasrul Islam Badrussholeh (Putra Ketujuh).

Setelah sekilas mengenal nasab dari Gus Syaviq, kini saatnya kita beranjak untuk mengenal perjalanan panjang kelimuan beliau. Perjalanan panjang keilmuan Gus Syaviq dimulai dari didikan Ayahanda beliau sendiri di Pondok pesantren al-Khoiriyah sekaligus Madrasah Ibtidaiyah (MI) al-Khoiriyah (lulus tahun 2001). 

Setelah mendapatkan gemblengan dari Ayahanda, Gus Syaviq kemudian melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Madrasatul Quran sekaligus Madrasah Tsanawiyah (MTs) Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang (lulus tahun 2004), ketika berada di Madrasatul Qur'an Tebuireng, Jombang beliau berhasil menyelesaikan hafalan qur'annya pertama kali langsung dibawah bimbingan Ust. Sya'rani Mu'thi, selain di Tebuireng beliau juga pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Riadlul Quran Mojokerto untuk menunjang keilmuan hafalannya. Setelah itu beliau sering melakukan tabarukan ilmu dan hafalan qur'an bersama para alim ulama diantaranya adalah KH. Hamim Abdul Qodir, (PP.Riadlul Quran Mojokerto), Ny.Hj. Barokah Nawawi (PP. Nurul Ummah),  KH. R. Hafidz Abdul Qodir, KH.R. Najib Abdul Qodir (Krapyak). Perjalanan keilmuan Gus Syaviq berlanjut di Pondok Pesantren al-Hikmah sekaligus Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) al-Hikmah Purwoasri Kediri (lulus 2007). 

 Setelah lama menimba ilmu di daerah Jawa Timur, Gus Syaviq memilih Yogyakarta sebagai pelabuhan selanjutnya dalam perjalanan panjang kelimuan beliau. Di Yogyakarta, Gus Syaviq memilih Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede, Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak, dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogyakarta sebagai tempat menimba ilmu. Gus Syaviq tercatat telah resmi mendapat gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) dari jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN SUKA pada tahun 2012, gelar Magister Pendidikan (M.Pd) dari Program Pascasarjana (PPs), Program Studi Pendidikan Islam dengan konsentrasi PBA, UIN SUKA pada tahun 2016, dan saat ini status Gus Syaviq adalah kandidat Doktor di PPs, Program Doktor dengan konsentrasi Studi al-Quran dan Hadits (SQH), UIN SUKA. Pada tahun 2015, Gus Syaviq menikah dengan Ning Siti Machmiyah (Ning Mia). Berdasarkan penuturan dari Gus Syaviq, keputusan untuk memilih Ning Mia merupakan hasil dari istikharah sang Ibunda. Kini, selain sibuk mendidik sang buah hati, Gus Qaff Muhammad Alnazeeh, Gus Syaviq juga sibuk membantu Abah Wachid dan Abah Mukti dalam mendidik santri-santri di Pondok Pesantren al-Khoiriyah dan Pondok Pesantren al-Quran al-Amin Pabuwaran.

MENGENAL GUS MUHAMMAD MUZAKKA ANBABY

Gus Muhammad Muzakka Anbaby

Gus Aam atau lebih lengkapnya Muhammad Muzakka Anbaby merupakan putra kedua dari pasangan K.H. Muhammad Mukti dan Ny.Hj. Permata Ulfah. Beliau biasa dipanggil zakka atau lebih akrabnya di pesantren dipanggil Gus Aam karena Abah biasa memanggil dengan nama Aam, yang diambil dari nama Anbaby. Nama tersebut adalah pemberian dari Guru Abah Mukti sewaktu mondok (ngaji) di Banten. Muzakka dari kata zakka-yuzakki-tazkiyyan, yang berarti suci. Jadi, nama Muzakka memiliki arti orang yang disucikan. Kemudian nama Anbaby berarti sumber, tetapi menurut Abah juga nama itu adalah nama dari seorang Kyai (abah/guru dari abah).
Beliau lahir di kota Jogja pada 25 Juli 1990. Riwayat pendidikan beliau diawali dari TK, yaitu TK Pertiwi Pabuwaran pada tahun 1996. Kemudian SD di SD Al-irsyad 2 Purwokerto selama 6 tahun (1997-2003). Beliau dulu ke sekolah dengan menaiki becak. Setelah lulus dari SD beliau melanjutkan SMP di lembaga Al-Asy'ariyah, Wonosobo selama 3 tahun (2003-2006). Lalu melanjutkan mondok di Gontor selama 4 tahun (2006-2010) yaitu dari kelas 1 s/d 6 (kelas 1, 3, 5, 6) dan mengabdi selama 2 tahun (tahun 2010-2012) dengan mengajar di sebuah lembaga Al-Mizan yang berada di Banten. Beliau mengajar anak-anak SMP dan SMA dan kemudian setelah selesai beliau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu bangku perkuliahan. Tahun 2012 beliau kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan dibarengi/ sambil mondok satu tahun. Setelah mondok selama satu tahun beliau tinggal disebuah kost-kost an, adapun alasan mengapa hanya mondok satu tahun karena kamar sedikit dan untuk angkatan berikutnya sehingga harus ngekost dari tahun 2013 s/d 2018.
Keluarga Ndalem di Idhul Fitri 1441 H
Kesibukan beliau untuk sekarang ini membantu mengurus pondok, setelah wisuda beliau melanjutkan kuliah S2 di UNY Jogja (2019). Disamping itu, beliau off hanya satu semester dan akan melanjutkan tahun depan. " Saya mulai kuliah lagi S2 tapi hanya satu semester sekarang off dulu dan kemungkinan akan dilanjut tahun depan atau kapan karena kemarin juga saya baru melaksanakan pernikahan " ujarnya.  
Gus Muhammad Muzakka Anbaby dan Ning Soli Solihat



Dipinang Gelar Sarjana

Dipinang Gelar Sarjana
Oleh : Qonita Qurrota A'yun

Siapa tak mendamba
Siapa tak ingin
Selaksa tanda pencapaian mahasiwa

Yang kuat perjuangannya
Yang lemah motivasi belajarnya
Yang keras berkecimpung dalam organisasinya
Yang hanya berangkat pulang setelah makulnya

Seluruh daya usaha dari penjuru lahir pula batin dikerahkan, oleh ia yang sungguh dalam kesungguhan
Jatuh menyerah pernah ditelan
Bangkit kembali berjuang tentulah jadi pilihan

Sekarang
Di panggung nuansa bangga dan haru
Disaksikan sepasang mata ayah ibu
Terbayang kembali masa masih di buaian
Yang sekarang telah berdiri menyiratkan kebanggaan

Pabuaran 19 november 2019

Masa Karantina


Produktif Ala Santri di Masa Self-Quarantine



Wabah virus covid 19 sudah menjadi pandemi dan menggegerkan masyarakat di penjuru dunia saat ini. Virus yang dikenal mematikan ini membuat panik warga dunia, tingkat penularannya yang sangat tinggi membuat penyakit ini dengan cepat menyebar luas. Banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mengurangi tingkat penularan wabah tersebut diantaranya adalah dengan melakukan himbaun untuk stay at home, memulangkan santri, mengganti kuliah menjadi kuliah online, dan lockdown lokal. Bagi kaum santri ketika berbagai upaya tersebut mulai diberlakukan, membuat mereka kehilangan banyak aktivitas. Ketika sebagian santri dipulangkan dan pondok pesantren dilockdown, kegiatan rutinitas yang awalnya berjalan dengan lancar seperti ngaji Abah, ngaji kitab, ngaji Quran, kuliah, mengajar TPQ dan sebagainya menjadi terhambat.
Kegiatan santri yang tidak berjalan seperti biasanya membuat sebagian santri mengeluh dan menjadi kurang produktif, terutama mereka yang memilih untuk stay at home. Namun disaat kondisi seperti inilah justru peran santri sangat dibutuhkan dalam memutus rantai penularan virus covid 19. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh santri untuk mengisi waktu luang mereka dan memberikan peranannya dalam membantu memutus rantai penularan virus covid 19.
Berikut ini adalah tips-tips produktif ala santri di masa self-quarantine untuk mengisi waktu luang dan memberikan perannya dalam memutus rantai penularan virus covid 19. Pertama biasakan diri untuk membuat rencana jangka pendek. Ketika dimalam hari sebelum tidur, usahakan terlebih dahulu membuat rencana pekerjaan apa saja yang akan dilakukan diesok hari mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, sehingga hidup menjadi lebih teratur dan tersistem, tidak terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia.
Kedua, lakukan sesuatu yang menjadi hobi kalian. Jika kalian adalah tipe orang yang memiliki hobi membaca, maka manfaatkan waktu kosong untuk membaca, entah itu membaca ulang kitab yang sudah dipelajari, membaca novel ataupun membaca buku bacaan yang ringan-ringan. Atau bisa juga bagi kalian yang hobi memasak mengisi waktu kosong dengan mencoba resep-resep baru, kegiatan tersebut pasti akan menyenangkan.
Ketiga,aplikasikan ilmu yang kalian dapat selama kuliah dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat ataupun di pondok pesantren apapun pun itu program studinya. Misalnya saja, kalian yang kuliah dijurusan kesehatan dapat menjadi relawan covid, atau yang anak pertanian dapat mengaplikasikan ilmunya dengan membantu masyarakat dalam menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan pertanian. Apapun ilmunya kalau kalian mau mengaplikasikannya maka akan memberikan manfaat pada diri sendiri ataupun orang lain.
Keempat, hindari terlalu lama membuka sosial media, usahakan membuka sosial media hanya jika ada kepentingan saja. Sosial media menyediakan banyak konten yang menghibur dan membuat candu para penggunanya, sehingga hanya akan menyita banyak waktu kalian untuk membaca sesuatu yang kurang penting. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga jadi jangan sia-siakan untuk sesuatu yang kurang penting.
Kelima, bagi kalian yang stay at home, aplikasikan ilmu yang kalian dapatkan selama di pondok pesantren. Pondok pesantrren adalah tempat kalian belajar tidak hanya ilmu agama tetapi juga ilmu kehidupan. Aplikasikan ilmu tersebut ketika kalian di rumah seperti mengajari anak-anak kecil mengaji, membantu orang tua, bergaul dan berbagi ilmu dengan masyarakat dan sebagainya.
  Dan yang terakhir, hindari kebanyakan tidur. Tidur memang sesuatu yang nikmat namun tidur cukup seperlunya saja, karena terlalu banyak tidur terutama di pagi hari membuat seseorang menjadi malas dan lemas. Lebih baik gunakan waktu luang kalian untuk kegiatan lain yang membuat hidup lebih terasa bersemangat dan bahagia.
Kaum santri adalah kaum yang sedang dipersiapkan untuk menjadi orang yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Jangan sia-siakan waktu kalian hanya untuk sesuatu hal yang kurang bermanfaat. Biasakan hidup sehat dan produktif. Everytime, everywhere kalian dapat menjadi kaum yang produktif, masa self-quarantinebukanlah hambatan, justru masa self-quarantine adalah kesempatan kita untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik.



Contact Me

Cari Blog Ini

Link list

Mengenal Tokoh Ulama

Mengenal Sosok Mbah Kiai Abuya Dimyati

Alangkah ruginya kita apalagi kalangan kaum santri apabila tidak mengenal ulama ini. Ulama yang terkenal memiliki kharismatik dan namanya...

Pengikut

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

Adress/Street

Jalan H.R Boenyamin Gg Gunung Sumbing No 13. A Pabuaran Purwokerto Utara

Phone number

********

Website

www.alaminkominfo.blogspot.com