Selamat Datang

Di Pusat Laman Media

Pondok Pesantren Al-Qur'an Al- Amin Paburan

Purwokerto Utara - Banyumas

Jawa Tengah

Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin,
Pabuaran, Purwokerto Utara
Banyumas, Jawa Tengah.

Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin adalah Pondok Pesantren Al-Qur'an yang beralamat di Jalan H.R Boenyamin GG. Gunung Sindoro No. 13 A RT. 04 RW. 02 Pabuaran, Purwokerto Utara Kode Pos 53124

Al-Amin Pabuaran
Keluarga Ndalem

adalah Pengasuh utama dari santri Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin mereka juga sebagai pembimbing dan teladan para santri. Mereka adalah Abah dan Nyai beserta Putra dan putri.

Pembina santri

Mereka adalah yang mengatur dan mengawasi para santri dalam pelaksanaan pembelajaran pondok serta mengamankan para santri.

Pengurus Al-Amin

Mereka adalah yang diberikan tugas oleh Keluarga Ndalem dan Pembina untuk melaksanakan berbagai program kerja yang telah direncanakan,mereka juga bertugas memperlancar kondisifitas dalam pembelajaran pondok pesantren.

Kominfo

Adalah organisasi independen diluar pengurus Al-Amin yang berhubungan dengan komunikasi dan informasi yang berkaitan dengan segala aspek yang berhubungan dengan Pondok Al-Amin.

Madrasah Diniyah

Adalah Organisasi independen yang mengurusi berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran santri,organisasi ini berperan aktif dalam berlangsungnya kegiatan pondok, selain dari pengajian yang langsung diajarkan oleh Abah ataupun Pembina.

TPQ Al-Amin

Adalah organisasi independen yang berkegiatan dalam pengaplikasian ilmu yang diajarkan kepada anak-anak yang berada disekitar desa Pabuaran, organisasi ini tidak berkaitan dengan badan pengurus Al Amin.

Blog Al-Amin
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Isra’ Mi’raj (27 Rajab 1442 H)

 Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW






Peristiwa Isra' dan Mi'raj bagi umat Islam menjadi fenomena sejarah yang sungguh luar biasa, terjadi satu tahun sebelum hijrah (10 tahun dari masa diutusnya Sayyid Muhammad sebagai Nabi) pada malam Isnain tanggal 27 Rajab.

Saat Nabi sendirian tidur di rumah Siti Ummi Hani (saudara kandung Sayyidina Ali) datanglah Jibril yang meminta beliau berjumpa dengan Allah. Ada yang menyebutkan Nabi berada di sekitar Masjidil Haram sekitar Hijr Ismail dengan ditemani dua sahabatnya (Hamzah dan Ja'far bin Abi Thalib).

Peristiwa ini begitu cepat dimana dalam waktu semalam menyelesaikan perjalanan jalur darat dan jalur udara. Zona destinasi isra' dan mi'raj adalah titik-titik sejarah para Nabi sebelum Nabi Muhammad. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut adalah bagian dari mu'jizat. Menguji keimanan orang Islam dapat dilakukan dengan bertanya percaya atau tidak terhadap Isra’ Mi’raj. 

Syekh Bisri Musthofa Rembang dalam kitab Tiryaqil Aghyar fi Tarjamati Burdatul Mukhtar menjelaskan bahwa waktu yang ditempuh dalam isra' itu sangat singkat dan mi'raj itu seperti qaba qausaini. Syi'ir yang diterjemahkan dalam bahasa Jawa dengan tulisan pegon oleh Mbah Bisri ini adalah:


سريت من حرم ليلا الى حرم ٭ كما سرى البدر في داج من الظلم


وبتّ ترقى الى ان نلت منزلة ٭ من قاب قوسين لم تدرك ولم ترم

Dalam catatan terjemahan ini, Mbah Bisri menyampaikan indahnya kata qaba qausaini yang secara lahiriyah bermakna "ujungnya dua pucuk". Padahal ibrah ini adalah terbalik, yang seharusnya qaba qausi, artinya menjadi dua pucuk.

Ada empat kitab yang secara spesifik menjelaskan Isra’ Mi’raj: 1) Qishshah Mi'rajin Nabi karya Syekh Najmudin Al Ghoidzi: 2) Tashilul Ghiba min Qissatil Isra' wa Mi'rajin Nabi karya Syekh Sahli bin Salim Assamarani: 3) I'anatul Muhtaj fi Qishshatil Isra' wal Mi'raj karya Syekh Ahmad Abdul Hamid Al Qandali: 4) Nurus Siraj fi Bayanil Isra' wal Mi'raj karya Syekh Ahmad Fauzan bin Zain Muhammad bin Muhamma Zain Arrambani.

Dalam kitab itu dijelaskan secara rinci bagaimana proses isra' dan mi'raj itu terjadi. Sehingga etnografi Isra’ Mi’raj dapat dirasakan dengan baik dan umat Islam di masa kini masih menikmati kemukjizatan Nabi Muhammad. Syekh Ahmad Abdul Hamid Kendal mengurai terlebih dahulu keutamaan bulan Rajab sebagai bulan mulia diantara dua belas bulan lainnya. Sebab di bulan Rajab itu banyak peristiwa sejarah, termasuk selamatnya kapal Nabi Nuh. Lokasi dimana Nabi singgah saat isra' secara detail disebutkan oleh Mbah Ahmad Abdul Hamid. Termasuk saat mi'raj juga secara rinci dijelaskan. Dimana alasan mi'raj oleh Mbah Ahmad disebutkan bahwa adanya kecemburuan antara langit dan bumi yang saling "poyok-pinoyok" (Jawa: mengejek satu dan lainnnya).

Sebab bumi merasa paling mulia karena dihuni oleh Nabi Muhammad. Langitpun akhirnya minta pada Allah agar Nabi Muhammad diperkenankan singgah kesana. Dan itulah yang dikabulkan Allah dalam peristiwa mi'raj. Syekh Sahli Semarang juga menjelaskan kisah yang sama. Bahwa peristiwa isra' dan mi'raj berjalan sangat cepat dengan segudang kisah yang diceritakan. Kepergian Nabi tengah  malam dan selesai menjelang subuh sudah berada kembali ke Kota Makkah.

Bahkan proses kehadiran Nabi di rumah Ummi Hani hingga Nabi langsung menuju Masjidil Haram untuk mengisahkan apa yang dialaminya juga disinggung dalam kitab Tashilul Ghiba. Syekh Ahmad Fauzan Rembang menyinggung bahwa peringatan Isra’ Mi’raj itu diperingati dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan kebiasan masyarakat. Termasuk cara mengkaji Isra’ Mi’raj disebutkan ada tiga model yaitu modern, sederhana dan kolot. Ini menunjukkan bahwa kisah Isra’ Mi’raj itu akan tetap menarik dikaji dari sisi apapun. Sebab itu adalah peristiwa langka yang diabadikan dalam surat al Isra ayat 1 dan surat an Najm ayat 1-17.

Maka wajar bagi mereka yang tidak mengikuti jejak Nabi tidak akan percaya dengan kisah ini. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Najmuddin Al Ghoizi bahwa orang yang tidak beriman, tidak akan percaya sebagaimana Abu Jahal dan orang kafir Quraisy yang menyebut Nabi sebagai tukang sihir (faramauhu bis sihr). Jika zaman dahulu sudah ada kelompok yang kufur terhadap Isra’ Mi’raj, maka peristiwa yang sudah hampir 14 abad berlalu itu masih ada yang tidak percaya itu wajar. Dan pasti, mereka yang tidak percaya adalah bukan orang yang beriman. Sedangkan bagi Muslim yang beriman, wajib percaya adanya Isra’ Mi’raj.

Dari kisah Isra’ Mi’raj ini ada dua pesan yang sangat filosofis. Pertama, bahwa isra' dan mi'raj ini menjawab kecemburuan bumi dan langit. Maka semua umat akan menyaksikan betapa kompaknya bumi-langit yang ramah kepada manusia yang beriman. Kedua, peristiwa Isra’ Mi’raj adalah napak tilas Nabi kepada Senior Nabi dengan ziarah plus visualisasi umat dahulu dan masa mendatang. Oleh sebab itu, zaman sekarang yang terpenting bagi generasi muda adalah sowan kepada ulama dan tokoh agama dan berziarah ke makam auliya'. Sebab kisah isra' dan mi’raj mencontohkan hal tersebut, dan yang paling mulia adalah, para Senior Nabi sangat sayang kepada Nabi Muhammad dan umatnya dalam memberikan ilmu negosiasi ketuhanan, dimana shalat yang asalanya 50 menjadi 5 waktu. Itulah hikmah dari berziarah atau sowan serta tawadlu' kepada Senior Nabi.


Mengenal Gus Cholil




Agus Cholil Rahman merupakan putra ketiga dari pasangan K.H. Muhammad Mukti dan Ny. Hj. Permata Ulfah. Cholil Rahman adalah nama yang diberikan oleh Mbah Dim (sebutan santri yang berasal dari jawa untuk K.H. Muhammad Dimyathi al-Bantani). Gus Cholil (sebutan santri untuk beliau) lahir di Sleman, 9 Maret 1992. Gus Cholil memulai rihlah ilmiah dari Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) al-Irsyad al-Islamiyyah 2 Purwokerto. Pada tahun 2004, Gus Cholil telah menyelesaikan pendidikan tingkat dasar dan memilih untuk melanjutkan rihlah ilmiahnya di Surakarta. 

Di Surakarta, Gus Cholil memilih Pondok Pesantren Ta’mirul Islam asuhan K.H. Naharussurur dan Ny.Hj. Muttaqiyah sebagai tempat menimba ilmu agama sekaligus melanjutkan pendidikan tingkat menengah pertama di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ta’mirul Islam Surakarta.

Pada tahun 2007, Gus Cholil dinyatakan lulus dari MTs Ta’mirul Islam Surakarta. Setelah 3 tahun menimba ilmu di Pondok Pesantren sekaligus MTs Ta’mirul Islam, Gus Cholil kemudian melanjutkan pendidikan tingkat menengah atas di kota yang sama, tepatnya di Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta. Pada tahun 2010, Gus Cholil dinyatakan lulus dan memilih untuk melanjutkan rihlah ilmiahnya di Kota Purwokerto. 

Di Purwokerto, Gus Cholil melanjutkan pendidikan tingkat perguruan tinggi di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Gus Cholil tercatat sebagai mahasiswa di Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Unsoed. Selain menjalani kesibukan sebagai seorang mahasiswa, Gus Cholil juga diamanahi oleh Abah untuk menjadi lurah pondok yang pada saat itu dikenal dengan jabatan lurah umum. Pada tahun 2014, Gus Cholil resmi mendapat gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) dari Unsoed. Jiwa haus ilmu Gus Cholil membuatnya tidak puas hanya mendapatkan gelar Sarjana, oleh karenanya Gus Cholil memilih untuk melanjutkan rihlah ilmiahnya di tanah kelahirannya, Yogyakarta. 

Di Yogyakarta, Gus Cholil memilih Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai tujuan rihlah ilmiah selanjutnya. Gus Cholil tercatat sebagai mahasiswa Magister (S2) dengan konsentrasi bidang studi Ekonomi Islam pada Program Pascasarjana (PPs), Magister Ilmu Agama Islam (MIAI), Fakultas Ilmu  Islam (FIAI), UII. Pada tahun 2016, Gus Cholil resmi mendapat gelar Magister Ekonomi (M.E.) dari UII. Kini, Gus Cholil menjalani kesibukan sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam(FEBI), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto. Selain itu, Gus Cholil juga dengan sabar membantu Abah untuk membina santri-santri Pondok Pesantren al-Qur’an al-Amin Pabuwaran (Pondok Pusat), Pondok Pesantren al-Qur’an al-Amin Prompong (Pondok Cabang), dan Pondok Pesantren al-Qur’an al-Amin Purwanegara (Pondok Cabang).


Amalan Bulan Rajab 1442



Tanggal 13 Februari 2021 dalam kalender Masehi merupakan awal dimulainya bulanRajab 1442 dalam kalender Hijriyah. Bulan Rajab merupakan bulan ketujuh dalam penanggalan Islam. Kata 'Rajab' memiliki makna 'keagungan atau mulia'. Bulan Rajab juga disebut dalam Alquran sebagai Asyhurul Hurum atau termasuk bulan-bulan yang dihormati, oleh karena itu bulan Rajab perlu diagungkan karena adanya sejumlah keutamaan di dalamnya.

Bulan Rajab termasuk dalam bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Hal demikian sebagaimana dinyatakan dalam Alquran Surah At-Taubah ayat 36. Abdul Manan Bin Haji Muhammad Sobari dalam bukunya berjudul Keagungan Rajab dan Sya'ban menuliskan, ayat tersebut menerangkan ada empat bulan yang dimuliakan Allah, yakni Dzulqa'idah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Hal demikian seperti dijelaskan Nabi Muhammad SAW ketika haji wada (haji penghabisan) saat berkhutbah di hari Qurban. Rasulullah SAW juga menegaskan soal kemuliaan bulan Rajab. Rasulullah menganjurkan umat Islam untuk berdoa pada bulan Rajab agar dipertemukan dengan bulan penuh rahmat, bulan Ramadan. Nilai amal ibadah yang dikerjakan dalam bulan Rojab pahalanya dilipat gandakan sampai tujuh puluh kali. 

MENGENAL NING MIA







Ning Siti Machmiyah al-Hafizhah (Ning Mia) merupakan putri pertama dari pasangan  K.H. Muhammad Mukti dan Ny.Hj. Permata Ulfah. Ning Mia lahir di Boyolali pada 6 Syawal 1408 Hijriyah atau bertepatan dengan 22 Mei 1988 dalam kalender Masehi. Sebagaimana putri Kyai pada umumnya, pendidikan pertama Ning Mia didapat langsung dari Ayahandanya, yakni K.H. Muhammad Mukti di Pondok Pesantren al-Quran al-Amin Pabuwaran. Setelah usia Ning Mia cukup untuk menempuh pendidikan tingkat dasar, Ning Mia mendaftar dan resmi menjadi siswa di Sekolah Dasar (SD) al-Irsyad al-Islamiyyah 2 Purwokerto pada tahun 1994 dan lulus pada tahun 2000. Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat dasar, Ning Mia melanjutkan pendidikan tingkat menengah pertama di Sekolah Menengah Pertama (SMP) al-Irsyad al-Islamiyyah Purwokerto pada tahun 2000 dan lulus tiga tahun kemudian, yakni pada tahun 2003. Setelah lulus dari SMP al-Irsyad al-Islamiyyah Purwokerto, Ning Mia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan keilmuannya di Surakarta. Di Surakarta, Ning Mia memilih Pondok Pesantren al-Quraniyy Mangkuduyan dan SMA al-Islam 1 Surakarta sebagai tempat untuk menimba ilmu. Dalam kurun waktu tiga tahun, Ning Mia menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atasnya, tepatnya pada tahun 2006 dan diwaktu yang beriringan, Ning Mia diterima di jurusan Sastra Arab, Fakutas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun setelah berkonsultasi dengan Ayahanda, Ning Mia akhirnya memilih jurusan Ilmu Komunikasi (Ilkom), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Univeritas Jenderal Soedirman (Unsoed) sebagai tempat menimba ilmu selanjutnya. Pada tahun 2006 Ning Mia dinyatakan resmi menjadi mahasiswa dan empat tahun kemudian Ning Mia dinyatakan resmi menyandang gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom) dari jurusan Ilkom, FISIP, Unsoed. Bagaikan berjodoh dengan UGM, meski pendidikan tingkat perguruan tinggi Strata 1 (S1) Ning Mia tidak ditempuh di UGM, namun Ning Mia akhirnya resmi menjadi mahasiswa Program Pascasarjana (PPs), Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP, UGM pada tahun 2010. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2012, Ning Mia telah menyelesaikan program magisternya dan berhak menyandang gelar Master of Arts (M.A.). Selain menempuh pendidikan formal di UGM, ketika di Yogyakarta, Ning Mia juga menjalani kehidupan sebagai santri di Pondok Pesantren Wahid Hasyim dan Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak. Pada tahun 2015, Ning Mia menyelesaikan hafalan 30 juz al-Quran beliau. Sesuai janji dari Ayahanda beliau, K.H. Muhammad Mukti, bila mampu menyelesaikan hafalan 30 juz al-Quran, maka akan diberangkatkan umrah. Namun berkah dari selesainya hafalan 30 juz al-Quran Ning Mia, tidak hanya Ning Mia saja yang diberangkatkan umrah, adik-adik beliau juga diikutsertakan. Sehingga pada saat itu, seluruh keluarga Ndalem yang terdiri dari, Abah, Ibu, Ning Mia, Gus Aam, Gus Cholil, Gus Fajrul, dan Gus Arsyad bersama-sama menjalankan ibadah umrah. Di tahun 2015 jugalah Ning Mia dipersunting oleh Gus Syaviq. Berawal dari pertemuan yang dilakukan oleh kedua belah pihak keluarga, Gus Syaviq hendak bermaksud melamar Ning Mia. Kemudian atas keputusan dari Ayahanda Ning Mia, K.H. Muhammad Mukti yang menghendaki untuk melangsungkan akad nikah pada saat itu juga, maka pihak keluarga memohon kepada K.H. Thoha Alawy al-Hafizh (Pengasuh Pondok Pesantren ath-Thohiriyah) untuk berkenan menjadi penghulu dan akad nikahpun berlangsung dengan sederhana dan khidmat. Kini, selain sibuk mendampingi sang suami, Gus Syaviq untuk membimbing santri dan mendidik sang buah hati, Qaff Muhammad Alnazeeh, Ning Mia juga sibuk menjadi dosen di Jurusan Ilmu Komunkasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta dan mahasiswa program pendidikan Doktor di Program Studi Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana, UGM. Kesibukan merintis usaha bersama sang suami pun tidak luput menjadi rutinitas keseharian beliau. Ning Mia juga tergabung dalam organisasi Fatayat Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta.

MENGENAL NING SOLI SOLIHAT


Ning Soli Solihat

    Ning Soli yang memiliki nama lengkap Soli Solihat merupakan menantu kedua KH. Muhammad Mukti dan Ny. Hj. Permata Ulfah. Nama Soli Solihat sendiri memiliki arti perempuan pembawa rahmat yang solihah (Soli = pembawa rahmat, Solihat = perempuan solihah). Ning Soli lahir di Tasikmalaya, 4 September 1996 bersama dengan saudara kembarnya yang bernama Sola Sonia. Pada tahun 2003-2009, Ning Soli bersekolah di SDN 1 Cipanengah. Lalu tahun 2009 Ning Soli melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di SMPN 1 Pancatengah hingga tahun 2012. Di tahun 2012-2015 Ning Soli melanjutkan sekolah di SMAN 1 Tasikmalaya. Kemudian tahun 2015 Ning Soli diterima di Universitas Jenderal Soedirman sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Ekonomi dan berhasil lulus dengan predikat cumlaude pada tahun 2019. Ning Soli dengan saudara kembarnya selain menempuh pendidikan nonforlma, keduanya juga menempuh pendidikan di dunia pesantren, sebut saja Pondok Pesantren Hidayatul Falah, Bihbul, Pancatengah; Hidayatul ‘ulum, Awipari, Tasikmalaya; dan terakhir Pondok Pesantren Al-Quran Al Amin, Pabiwaran, Purwokerto Utara. Mengenal Ning Soli tidaklah cukup hanya sekedar pendidikannya saja. 

Ning Soli lahir dari keluarga yang bahagia. Ayahnya yang bernama Abdul Kohar adalah seorang santri dari Pondok Pesantren Khoirul Huda, Paseh, Pancatengah dan Mama nya yang bernama Cucu Muawanah pun adalah seorang santri yang dalam perjalanan hidup Beliau menempuh pendidikan sebagai santri di Pondok Pesantren Al-Hasanah CintaPada, Tasikmalaya. Ayah Ning Soli adalah seorang penjahit sukses. Bagaimana tidak sukses, pelanggan Beliau merupakan ulama-ulama besar, dan para anggota dewan pun turut serta menjadi pelanggan Beliau. Jahitannya yang rapih, serta penerimaan yang sopan dan santun dari Mama Ning Soli menjadikan para pelanggan nyaman. Bisnis menjahit ini bukan hanya sekedar bisnis, melainkan juga sebagai wasilah keluarga Ning Soli agar dekat dengan banyak ulama, mendapat barokah yang dibawakan oleh para ulama – ulama. Kaka Ning Soli (Aa, sapaan Ning Soli) yang bernama Muhammad Irpan Rifa’i dari kecil selain mempuh pendidikan formal juga menempuh pendidikan di Pondok Pesantren. Kehidupan Aa dari kecil tidak lepas dari pendidikan Pondok, karena pesan Ayah nya Tidak penting pendidikan formal, jika pendidikan Pesantren tidak pernah di lalui. Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan Pondok adalah hal yang sangat penting, meski pendidikan formal juga penting. Aa menjadi seorang santri tidak hanya di satu Pondok Pesantren saja, namun ada beberapa yakni, Pondok Pesantren Baitul Hikmah, Haur Kuning, Salopa; Pondok Pesantren Hidayatul Falah, Bihbul, Pancatengah; Pondok Pesantren Khoirul Huda, Paseh, Pancatengah; Pondok Pesantren Al-Hasanah, Cibeti, Tasikmalaya; Pondok Pesantren Al-Hasanah, Situbodol, Pancatengah. Kiprahnya Aa di dunia pesantren, tidak diragukan lagi, kepandaiannya pada ilmu alat (nahwu shorof) membuat Beliau di tawari menjadi salah satu ustadz di Pondok Pesantren yang dekat dengan rumah Beliau (KH Uus, Pengasuh Pondok Pesantren). Perjalanan Beliau sebagai ustadz cukup sukses, karena selain mendapat barokah Kyai, Beliau juga meminang salah satu santri nya yang bernama Maya. Setelah menikah Aa dan istri berpindah ke tempat sang istri, di sana Beliau menghidupkan masjid dengan membangun sebuah madrassah. Sukses mendidik Aa menjadi seorang yang ‘alim, Ayah dan Mama masih harus membuat kedua putri kembarnya sukses baik dalam hal keduniawian maupun akhirat. Hal ini dibuktikan dengan kedua putrinya yang menikah dengan anak Kyai. Tidak hanya sampai pada menikah, tetapi putri pertamanya (Teh Sola, sapaan Ning Soli) menikah dengan seorang anak Kyai Pondok Pesantren Miftahul Hidayah, Cibalong, Tasikmalaya yang bernama Gus Aji Ahmad Fauzi Dakhlan. Pada saat pernikahan Teteh Sola dengan suami, banyak ulama yang dateng mendoakan kebahagiaan untuk kedua mempelai. Teh Sola mendapat amanah untuk mengajar kelas ilmu alat (jurumiyah), yang memang tidak diragukan lagi. Karena pada saat masih di Pondok Pesantren Al –Quran Al- Amin juga mengajar kelas nahwu. Selain mengajar dikelas ilmu alat, kehadiran Teh Sola juga memberikan sedikit perubahan di SMPTerbuka, contohnya adalah penggunaan komputer dan internet, yang dulu masih manual, sekarang menjadi menggunakan internet. Lalu Putri kedua Beliau (Ning Soli, sapaan santri PPQ Al-Amin). Pada saat pernikahan Ning Soli dengan Gus Aam yang berlansung malam haripun hampir tengah malam, banyak ulama yang turut hadir untuk mendoakan keberkahan pernikahan keduanya. Ning Soli saat ini sedang menjalani kesubukan dengan mengurus rumah tangga dan berusaha berbakti dengan keluarga. Ning Soli juga sempat mengajar Kitab Ta’lim Muta’alim di Pondok Pesantren Al-Quran Al Amin Pabuwaran (cabang Purwanegara). Ning Soli mengaku mengalami perubahan saat sebelum dan sesudah menikah. Saat belum menikah, Ning Soli masih bergantung pada orang tua. Namun, sekarang Ning Soli harus berbagi kehidupan dengan orang lain (suaminya). Ning Soli merasa bersyukur memiliki suami yang merupakan putra dari KH. Muhammad Mukti yang dianggap sebagai guru terhebat bagi Ning Soli. Ning Soli berharap dapat mendapatkan kemuliaan dan keberkahan dari Abah Mukti. 

Bukan sebuah tirakat besar mendapatkan menantu anak seorang Kyai dan anak laki-lakinya sebagai ustadz, hanya doa yang sering dipanjatkan kedua orang tualah yang menjadi senjata ampuh untuk mendapatkan kebahagiaan anak-anaknya. Tidak hanya sekedar doa biasa, namun doa yang sangat mudah di’ijabah yakni doa seorang ibu untuk anak-anaknya yang sholeh dan sholehah. Bukan hanya doa orang tua, tetapi doa dari para ulama yang telah menjadi pelanggan setia Ayahnya, yang tidak sungkan-sungkan untuk mendoakan agar anak-anak Beliau mendapatkan pasangan yang sholeh dan sholehah. Wejangan Ning Soli selalu pegang dari ibunya adalah Selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah swt, apapun itu. Perjuangkanlah kehormatanmu demi diri kamu sendiri, perjuangkanlah agamamu demi Tuhanmu, perjuangkanlah cita-citamu demi masa depanmu.

MENGENAL GUS SYAVIQ MUQOFFI


Agus Syaviq Muqoffi al-Hafizh bin Abdul Wachid Badrussholeh bin Badrus Sholeh bin Arif merupakan putra menantu pertama dari K.H. Muhammad Mukti dan Ny.Hj. Permata Ulfah. Gus Syaviq (sapaan santri untuk beliau) lahir di Nganjuk, 23 Agustus 1987. Gus Syaviq merupakan putra dari pasangan K.H. Abdul Wachid Badrussholeh (Abah Wachid) dan Ny.Hj. Nur Abidah. Abah Wachid adalah pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren al-Khoiriyah yang terletak di Dusun Jati, Desa Katerban, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk. 

Selain mengadakan pendidikan non-formal (agama), seperti Taman Pendidikan Quran (TPQ) dan Madrasah Diniyah (MADIN), Pondok Pesantren al-Khoiriyah juga mengadakan pendidikan formal (umum), seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Seluruh lembaga pendidikan formal maupun non-formal tersebut berada dalam naungan Yayasan al-Khoiriyah Baron. 

Pada tahun 2013, Abah Wachid terpilih menjadi Wakil Bupati Nganjuk periode 2013-2018. Ketika masa jabatan Abah Wachid sebagai Wakil Bupati akan berakhir dalam hitungan kurang dari 6 bulan, Abah Wachid ditunjuk oleh Gubernur Jawa Timur saat itu untuk menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Nganjuk sampai berakhirnya periode kerja Bupati dan Wakil Bupati Nganjuk periode 2013-2018. 

Mengenal Gus Syaviq tidak lengkap bila hanya menampilkan sosok Abah Wachid, tanpa menampilkan sosok kakek dari Gus Syaviq sekaligus ayahanda dari Abah Wachid, yakni K.H. Badrus Sholeh. K.H. Badrus Sholeh merupakan putra dari pasangan Kyai Arif bin Kyai Hasan Alwi bin Pangeran Diponegoro dan Nyai Sukarsih/Sriatun binti Kyai Hasan Muhyi (pendiri Pesantren Kapurejo). 

Selain memiliki nasab yang mulia, K.H. Badrus Sholeh juga memiliki sanad yang bersambung kepada gurunya, yakni Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asyari (Rais Akbar Nahdlatul Ulama). K.H. Badrus Sholeh adalah salah satu murid yang diamanahi oleh Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asyari untuk membekali dan menggembleng para pejuang kemerdekaan (santri dan prajurit) sebelum berperang melawan penjajah Belanda. K.H. Badrus Sholeh dikenal sebagai sosok kyai yang tegas, hal tersebut terlihat dari sikap beliau yang tegas memperingatkan bahaya laten Partai Komunis Indonesia (PKI) dan memerangi para pengikutnya pada saat Indonesia ramai kasus PKI yang meresahkan masyarakat. K.H. Badrus Sholeh merupakan perintis sekaligus pendiri Pondok Pesantren al-Hikmah Purwoasri, Kediri. Seiring berjalannya waktu, Pondok Pesantren al-Hikmah berkembang menjadi 6 unit di bawah asuhan putra-putri dari K.H. Badrus Sholeh. Pondok Pesantren al-Hikmah (pondok induk) di bawah asuhan K.H. Zaimuddin Badrussholeh (Putra Sulung) dan K.H. Fathu Karim Badrussholeh (Putra Bungsu), Pondok Pesantren al-Khoiriyah di bawah asuhan K.H. Abdul Wachid Badrussholeh (Putra Kedua), Pondok Pesantren al-Badriyah di bawah pengawasan Ny.Hj. Lilik Nur Cholidah Badrussholeh (Putri Ketiga), Pondok Pesantren Tahfidhul Quran di bawah pengawasan K.H. Abdun Nashir Badrussholeh (Putra Keempat), Pondok Pesantren Ahmada di bawah pengawasan K.H. Ahmad Dain Arif Badrussholeh (Putra Kelima), Pondok Pesantren Roudhotul Quran di bawah asuhan K.H. Muhammad Yahya Badrussholeh (Putra Keenam), dan Pondok Pesantren al-Hikmah 2 di bawah asuhan K.H. Nasrul Islam Badrussholeh (Putra Ketujuh).

Setelah sekilas mengenal nasab dari Gus Syaviq, kini saatnya kita beranjak untuk mengenal perjalanan panjang kelimuan beliau. Perjalanan panjang keilmuan Gus Syaviq dimulai dari didikan Ayahanda beliau sendiri di Pondok pesantren al-Khoiriyah sekaligus Madrasah Ibtidaiyah (MI) al-Khoiriyah (lulus tahun 2001). 

Setelah mendapatkan gemblengan dari Ayahanda, Gus Syaviq kemudian melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Madrasatul Quran sekaligus Madrasah Tsanawiyah (MTs) Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang (lulus tahun 2004), ketika berada di Madrasatul Qur'an Tebuireng, Jombang beliau berhasil menyelesaikan hafalan qur'annya pertama kali langsung dibawah bimbingan Ust. Sya'rani Mu'thi, selain di Tebuireng beliau juga pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Riadlul Quran Mojokerto untuk menunjang keilmuan hafalannya. Setelah itu beliau sering melakukan tabarukan ilmu dan hafalan qur'an bersama para alim ulama diantaranya adalah KH. Hamim Abdul Qodir, (PP.Riadlul Quran Mojokerto), Ny.Hj. Barokah Nawawi (PP. Nurul Ummah),  KH. R. Hafidz Abdul Qodir, KH.R. Najib Abdul Qodir (Krapyak). Perjalanan keilmuan Gus Syaviq berlanjut di Pondok Pesantren al-Hikmah sekaligus Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) al-Hikmah Purwoasri Kediri (lulus 2007). 

 Setelah lama menimba ilmu di daerah Jawa Timur, Gus Syaviq memilih Yogyakarta sebagai pelabuhan selanjutnya dalam perjalanan panjang kelimuan beliau. Di Yogyakarta, Gus Syaviq memilih Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede, Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak, dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogyakarta sebagai tempat menimba ilmu. Gus Syaviq tercatat telah resmi mendapat gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) dari jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN SUKA pada tahun 2012, gelar Magister Pendidikan (M.Pd) dari Program Pascasarjana (PPs), Program Studi Pendidikan Islam dengan konsentrasi PBA, UIN SUKA pada tahun 2016, dan saat ini status Gus Syaviq adalah kandidat Doktor di PPs, Program Doktor dengan konsentrasi Studi al-Quran dan Hadits (SQH), UIN SUKA. Pada tahun 2015, Gus Syaviq menikah dengan Ning Siti Machmiyah (Ning Mia). Berdasarkan penuturan dari Gus Syaviq, keputusan untuk memilih Ning Mia merupakan hasil dari istikharah sang Ibunda. Kini, selain sibuk mendidik sang buah hati, Gus Qaff Muhammad Alnazeeh, Gus Syaviq juga sibuk membantu Abah Wachid dan Abah Mukti dalam mendidik santri-santri di Pondok Pesantren al-Khoiriyah dan Pondok Pesantren al-Quran al-Amin Pabuwaran.

MENGENAL GUS MUHAMMAD MUZAKKA ANBABY

Gus Muhammad Muzakka Anbaby

Gus Aam atau lebih lengkapnya Muhammad Muzakka Anbaby merupakan putra kedua dari pasangan K.H. Muhammad Mukti dan Ny.Hj. Permata Ulfah. Beliau biasa dipanggil zakka atau lebih akrabnya di pesantren dipanggil Gus Aam karena Abah biasa memanggil dengan nama Aam, yang diambil dari nama Anbaby. Nama tersebut adalah pemberian dari Guru Abah Mukti sewaktu mondok (ngaji) di Banten. Muzakka dari kata zakka-yuzakki-tazkiyyan, yang berarti suci. Jadi, nama Muzakka memiliki arti orang yang disucikan. Kemudian nama Anbaby berarti sumber, tetapi menurut Abah juga nama itu adalah nama dari seorang Kyai (abah/guru dari abah).
Beliau lahir di kota Jogja pada 25 Juli 1990. Riwayat pendidikan beliau diawali dari TK, yaitu TK Pertiwi Pabuwaran pada tahun 1996. Kemudian SD di SD Al-irsyad 2 Purwokerto selama 6 tahun (1997-2003). Beliau dulu ke sekolah dengan menaiki becak. Setelah lulus dari SD beliau melanjutkan SMP di lembaga Al-Asy'ariyah, Wonosobo selama 3 tahun (2003-2006). Lalu melanjutkan mondok di Gontor selama 4 tahun (2006-2010) yaitu dari kelas 1 s/d 6 (kelas 1, 3, 5, 6) dan mengabdi selama 2 tahun (tahun 2010-2012) dengan mengajar di sebuah lembaga Al-Mizan yang berada di Banten. Beliau mengajar anak-anak SMP dan SMA dan kemudian setelah selesai beliau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu bangku perkuliahan. Tahun 2012 beliau kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan dibarengi/ sambil mondok satu tahun. Setelah mondok selama satu tahun beliau tinggal disebuah kost-kost an, adapun alasan mengapa hanya mondok satu tahun karena kamar sedikit dan untuk angkatan berikutnya sehingga harus ngekost dari tahun 2013 s/d 2018.
Keluarga Ndalem di Idhul Fitri 1441 H
Kesibukan beliau untuk sekarang ini membantu mengurus pondok, setelah wisuda beliau melanjutkan kuliah S2 di UNY Jogja (2019). Disamping itu, beliau off hanya satu semester dan akan melanjutkan tahun depan. " Saya mulai kuliah lagi S2 tapi hanya satu semester sekarang off dulu dan kemungkinan akan dilanjut tahun depan atau kapan karena kemarin juga saya baru melaksanakan pernikahan " ujarnya.  
Gus Muhammad Muzakka Anbaby dan Ning Soli Solihat



Separuh Jiwaku Pergi

Karya : Sisin Sundari

Aku mencintainya bukan karena rupa
Tapi karena semangatnya
Karena akhlak baiknya
Karena cerianya
Karena ceritanya

Tatkala menutupi betapa lemah dirinya
Namun tetap menyunggingkan senyum lepasnya
Tatkala ia terdiam membisu
Karena tengah berdoa dalam qalbu
Sebab banyak yang ia pikirkan
Termasuk hal yang bertentangan dengan keinginan

Tak semua orang bisa sepertinya
Tapi tak pula juga ia hanya manusia biasa
Biasa yang menjadi luarbiasa saat kau tau cerita hidupnya
Sehingga melepaskannya bukan perkara mudah
Namun tak membiarkanya membuatnya gundah dan patah

Meski menyesakan didada
Harus ikhlas atas keputusan-Nya
Ragamu boleh engkau bawa
Namun jiwamu akan selalu ada
Disini, disampingku, bersamaku
Selamat berjumpa kembali kawan

Pendaftaran Santri Baru 2020

Assalamu'alaikum 🤗 kawan-kawan.
Telah dibuka pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Al Qur'an Al-Amin Pabuwaran tahun 2020. Bagi calon santri baru yang ingin mengetahui informasi lebih lengkap, bisa datang langsung atau menghubungi nomor yang tertera pada brosur atau posting komentar kawan-kawan dibawah ini 👍😉. Terimakasih.



#PSB2020
#AL-AMINKOMINFO
#AYOMONDOK
#INDONESIALEBIHNYANTRI

MENGENAL K.H. MUHAMMAD MUKTI

KH. MUHAMMAD IBNU MUKTI






Drs. K.H. Muhammad Mukti, M.Pd.I (Abah Mukti) merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren al-Qur’an al-Amin Pabuwaran, Purwokerto Utara, Banyumas. Beliau dikenal sebagai seorang Kyai yang tegas dalam mendidik santri-santrinya, teguh dalam prinsip agama, dan gigih dalam berdakwah. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.

Abah Mukti merupakan putra ketiga dari Mbah Badri bin Mbah Dzikri bin Mbah Shaghirin bin Mbah Thayyib bin Mbah Ahmad ‘Arif bin Mbah Kyai Nur Iman. Dengan kata lain, Abah Mukti merupakan keturunan generasi keenam dari Kyai Nur Iman. Kyai Nur Iman yang diperkirakan lahir pada tahun 1720-an M merupakan seorang pangeran yang kemudian menjadi Ulama sekaligus pendiri dusun Mlangi, Yogyakarta. Kyai Nur Iman adalah salah satu Kyai yang memiliki andil besar dalam persebaran dakwah Islam pada masa-masa Kerajaan Mataram Islam. Buah perjuangan dakwah Kyai Nur Iman yang dapat dirasakan hingga saat ini adalah berdirinya 17 pondok pesantren di Mlangi yang menjadikan dusun Mlangi menjadi salah satu pusat pondok pesantren di Yogyakarta.


Abah bersama K.H Murtadlo Dimyati



Abah Mukti yang lahir pada 10 Syawal 1375 H (21 Mei 1956 M), tumbuh dan besar dalam lingkungan kampung pesantren di Mlangi. Hal tersebut berdampak positif bagi proses pendidikan Abah yang dikemudian hari dikenal sebagai seorang juru dakwah sebagaimana pendahulu beliau, Kyai Nur Iman. Selain belajar kepada guru-guru yang ada di Mlangi, Abah juga berguru kepada Ulama kharismatik asal Banten, Abuya K.H. Muhammad Dimyathi bin Muhammad Amin al-Bantani. Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya para guru dan kyainya para kyai.

Abah dan Ibu Nyai Pemata Ulfah




Abah Mukti tidak hanya sebatas menimba pendidikan non-formal di bidang agama saja, namun juga menimba pendidikan formal hingga memperoleh gelar Sarjana di Universitas Gadjah Mada, serta gelar Magister Pendidikan Islam. 
Abah kemudian menikah dengan seorang perempuan yang juga luar biasa dalam mendampingi kehidupan seorang juru dakwah, beliau adalah Dra. Permata Ulfah, M.Si., Ak. (Ibu). Singkat cerita, Abah dan Ibu memilih untuk hijrah dan menetap di Pabuwaran, Purwokerto. Hingga saat ini (Ramadhan 1441 H), Abah dan Ibu memiliki 5 putra, 2 putra menantu, dan 1 cucu. Putri pertama beliau, Ning Siti Machmiyah menikah dengan Gus Syaviq Muqoffi pada tahun 2015 dan telah dikaruniai seorang putra yang bernama Qaf Muhammad al-Nazeeh. Putra kedua beliau, Gus Muhammad Muzakka Anbaby telah menikah dengan Ning Soli Solihat pada tahun 2020. Putra ketiga beliau, Gus Cholil Rahman kini menjadi dosen di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto. Putra keempat beliau, Gus Muhammad Fajrul Mujtaba sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren Roudlotul Ulum Cidahu, Banten asuhan Abuya K.H. Ahmad Muhtadi bin K.H. Muhammad Dimyathi al-Bantani. Dan putra kelima beliau, Gus Muhammad Arsyad Noor sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta asuhan K.H.R. Muhammad Najib Abdul Qadir al-Hafidz.

Keluarga Ndalem di Hari Raya Idhul Fitri 1440 H


Abah bersama K.H Maimun Zubair
Keluarga Ndalem lengkap





Abah & Ibu bersama keluarga Gus Anam


eberapa tahun belakangan ini, Abah Mukti sangat dekat dengan K.H. Zuhrul Anam Hisyam (Gus Anam), Pengasuh Pondok Pesantren at-Taujieh al-Islamy 2 Leler, Banyumas. Meskipun usia Abah lebih sepuh, tetapi Abah sangat menghormati Gus Anam. Kedekatan Abah dengan Gus Anam, menghantarkan Abah pada kesempatan untuk mendampingi Ulama kharismatik yang merupakan morosepuh dari Gus Anam, yakni K.H. Maimoen Zubair untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 2017.
Kini, di usia yang tidak lagi muda, Abah Mukti dengan sabar mengasuh dan mendidik santri-santrinya yang terbagi di tiga tempat, yakni Pondok Pesantren al-Qur’an al-Amin Pabuwaran (Purwokerto Utara, Banyumas), Pondok Pesantren al-Qur’an al-Amin Prompong (Baturraden, Banyumas), dan Pondok Pesantren al-Qur’an al-Amin Purwanegara (Purwokerto Utara, Banyumas).

ADA YANG BERBEDA DENGAN SHALAT TARAWIH DI PPQ AL-AMIN PABUAWARAN.


ADA YANG BERBEDA DENGAN SHALAT TARAWIH DI PPQ AL-AMIN PABUAWARAN.



"Ada yang spesial dengan sholat tarawih di pondok kami " Tutur salah satu santri, Ilhami.

Bulan Ramadhan adalah bulan keberkahan, meskipun dengan keadaan yang kini mengharuskan kita untuk #dirumahaja, tidak sedikit para santri yang juga memilih #dipondokaja. Begitupun dengan santri PPQ Al-amin Pabuwaran yang masih sekitar 130an anak berada di pondok.

"Sholat tarawih kali ini, berbeda dari tahun sebelumnya. Kali ini kami sholat tarawih sambil menyimak" lanjutnya,

Menurutnya, sholat tarawih yang dilakukan di PPQ Al-amin Pabuwaran sangat istimewa, sebab para santri diharuskan menyimak bacaan dari imam saat sholat berlangsung.
Menyimaknya tentu dengan bukan hanya mendengarkan, melainkan dengan memegang Al-quran.

"Awalnya memang agak sulit, tetapi setelah di beri penjelasan prosedurnya kami terbiasa melakukan hal tersebut"

Setiap rakaat para santri di haruskan menyimak sebanyak 1 halaman. Sehingga tepat ketika 20 rakaat mereka menyelesaikan 1 juz. Hal ini dilakukan agar mereka bisa mengkhatamkan Al-quran dalam sholat tarawih selama Ramadhan.

"Saat imam membaca suratnya, kita sudah membuka halaman yang akan imam buka. Tentu ini juga membantu kita meningkatkan konsentrasi. Lalu ketika kami akan melakukan rukuk, sujud kami menghimpit al-qurannya di ketiak kiri. Jangan sampai jatuh! Baru ketika imam akan membaca surat, kami membawa al quran dengan biasa." Ujarnya menjelaskan bagaimana cara menaruh al-quran ketika tarawih.

Sangat di sarankan untuk menggunkan mukena lajuran bagi santri putri. Mempermudah saja saat akan menghimpit al-quran dan membuka kembali saat sholat.



Adapun hukum membawa alquran dalam sholat terdapat dalam hal berikut.

Pertama, sah dan tidak dimakruhkan

Ini pandangan Syafi’iyah dan mayoritas mazhab Hambali. (Lihat: Al Wajiz: 1/49, Al Majmu’: 4/95, Al Furu’: 1/478 479,  Al Inshaf: 2/109, Muntaha Al Iradat: 1/86) Dalil (dasar islam)nya, Abu Hurairah meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “Aisyah  bermakmum  kepada  budaknya, Dzakwan yang melihat mushaf.” (Shahih Bukhari, Kitabu Al Adzan, Bab Imamatil ‘Abdi wa Al Maula: 1/170)

Sebuah hadits yang menceritakan kisah keutamaan Aisyah istri Rasulullah SAW yang bermakmum kepada Dzakwan  yang  melihat  mushaf  dalam  shalat  Tarawih  ini  menjadi penunjuk  diperbolehkannya  shalat  dengan  melihat  mushaf.  Jika dalam  shalat  sunah  diperbolehkan  maka  dalam  shalat  fardhu  juga diperbolehkan, kecuali kalau ada dalil (dasar islam) yang membedakannya.

Kedua, merusak  shalat.

Ini  pandangan  Abu  Hanifah,  sebagian Hanabilah  dan  Ibnu  Hazm. (Al Mabsuth:1/201, Fatawa Qadhi Khan:1/133, Al Hidayah: 1/62,dan Al Furu’:1/479) Dalil (dasar islam)nya, Abdullah bin Abi Aufa meriwayatkan, “Ada seseorang yang  mendatangi Rasulullah sebagai hukum beradab dengan Rasulullah dan berkata,

‘Sesungguhnya aku tidak mampu membaca  kitab Al Qur’an sedikit pun maka ajarkanlah bacaan yang mencukupi  kepadaku’. Beliau bersabda, ‘Katakanlah, Subhanallah, Al Hamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar dan La Haula wa La Quwwata illa billah’.” (Sunan Abu Dawud, Kitabus Shalat, , sebuah hadits ke 832: 1/220 dan beliau tidak mengomentarinya)

Ketiga, makruh tapi tidak merusak shalat

Ini pandangan Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan, dua shahabat Abu Hanifah. Alasannya, melihat  mushaf  ketika  shalat  menyerupai  ahlul  kitab, sedangkan pembuat  syariat  (Allah  Ta’ala)  melarang  kita  untuk  menyerupai mereka. (Lihat: Al Mabsuth:1/201, Al Hidayah: 1/62, dan Al Ikhtiyar:1/62)

Keempat, makruh dalam shalat fardhu, tidak dalam shalat sunah
Kecuali  bagi yang sudah hafal  kitab Al Qur’an, ia tetap dimakruhkan membaca dengan melihat mushaf, baik dalam shalat fardhu maupun shalat sunah. 

Ini pandangan mazhab Maliki. (Lihat: Al Dalil (dasar islam) pandangan ini sama dengan dalil (dasar islam) pandangan pertama, yaitu sebuah hadits Aisyah yang bermakmum kepada Dzakwan. Hanya, pandangan ini menyatakan bahwa itu hanya berlaku untuk shalat sunah, tidak untuk shalat fardhu.

Ada juga bagi sebagian perawi hadits;
Sayidatuna Aisyah RA dan pelayannya pernah membaca mushaf ketika shalat. "Dari Aisyah istri Rasulullah SAW bahwa ghulamnya menjadi imam sha lat atas dirinya sambil memegang mushaf." (HR al-Bai haqi dan Ibnu Abi Syai bah).

Dalam hadis lainnya yang bersumber dari Ibnu at-Toimi dari ayah nya juga menjelaskan bahwa Aisyah Radhiyalla huanha membaca mushaf dalam keadaan shalat (HR Abdurrazzaq).

Imam Nawawi
Membaca Alquran dengan melihat mushaf tidak membatalkan shalat meskipun dia tidak hafal Alquran, bahkan itu wajib dilakukan bila tidak hafal surat al-Fatihah meskipun dengan membalikkan halaman, maka tidak batal shalatnya. Andaikan seseorang melihat tulisan selain mushaf dan diulang-ulang dalam hati tidak batal shalatnya, akan tetapi menjadi makruh bila berlangsung lama (pendapat Imam Syafi'i dalam kitab al-Majmu')

Imam Malik
Tidak masalah bila seorang imam membaca surat dengan meilhat mushaf di qiyam Ramadhan dan shalat sunah lainnya. Ibnu Qasim menyatakan makruh bila dilakukan di shalat fardhu. Ibnu Wahab berkata bahwa Ibnu Syihab berkata: "Ulama-ulama terbaik kita membaca surat dengan melihat mushaf saat qiyam Ramadhan dengan berdalil bahwa itu dilakukan oleh budaknya Aisyah. Imam Malik dan al Laits pun berpendapat demikian (al- Mudawanah jilid 1).



Semoga bisa menjadi motivasi, pengetahuan dan referensi bagi kita.
Dan semoga kita selalu mendapatkan keberkahan dari Bulan suci Ramadhan ini.

Wassalamualaikum wr.wb

Nuzulul Qur'an 1441 H



Nuzulul Qur'an PPQ Al-Amin Pabuaran




Assalamu'alaikum Wr. Wb

Dalam rangka memperingati malam Nuzulul Qur'an atau turunnya Al-Qur'an yang bertepatan pada 17 Ramadhan 1441 H Pondok Pesantren Al-Amin Pabuaran yang terletak di Jl. H.R Boenyamin, Gg Gunung Sindoro, Pabuaran Kec. Purwokerto Utara menyelenggarakan kegiatan Khatmil Qur'an dan simakan beserta Mauidhoh Hasanah yang dihadiri oleh seluruh santri Al-Amin Pabuaran beserta keluarga ndalem pada hari Sabtu (09/05/2020).



Malam Nuzulul Qur'an merupakan malam dimana Al-Qur'an diturunkan ke langit dunia kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril, sebagai Hudallinnas (Petunjuk bagi manusia) sesuai firman Alloh SWT dalam Q.S Al-Baqarah (185) :

Artinya : “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…...” (QS Al-Baqarah [2]: 185).

Imam Ibnu Katsir juga memaparkan, “Allah Ta’ala memuji bulan Ramadhan diantara bulan-bulan lainnya. Yaitu dengan memilihnya sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an Al Azhim” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/501)



Kegiatan ini berjalan tertib dan lancar serta para santripun sangat antusias mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh panitia. Kegiatan inti dari pelaksaan peringatan Nuzulul Quran yang bertemakan "Kehebatan cinta Al-Qur'an" adalah Khatmil Qur'an yang dipimpin langsung oleh Gus Syafiq selaku menantu dari K.H Muhammad Ibnu Mukti selaku pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin Pabuaran.



Setiap Bulan ramadhan tiba kegiatan ini selalu dilaksanakan demi penguatan keimanan serta mendalami lebih jauh manfaat dari Al-Qur'an serta untuk mengetahui betapa cintanya Alloh pada kita.

Seperti yang dikutip dari Mauidhoh Hasanah yang diisi oleh Gus Syafiq, Seberapa cinta kita terhadap Allah?
Hal ini diibaratkan dengan saat kita mencintai seseorang yang mengirim Whatsapp, baru lihat siapa yang mengirim aja sudah seneng. Dan berusaha untuk berlama-lama chatingan. _saat melihat seseorang yang kita cintai memberikan rasa ndredeg walau dari jauh sekalipun._ 

Hal itu bisa kita aplikasikan pada saat kita membaca Al Quran. Bagaimana caranya? Latihlah dengan memahami makna Al Quran (ayat yang dibaca). Dengan memahami makna dan isi didalam Al-Qur'an maka kita akan gandrung dan cinta dengan Al-Qur'an dengan kita cinta dengan Al-Qur'an kita akan otomatis akan mencintai Alloh SWT dan Rosul-Nya. Menghiasi pribadi kita dengan pribadi Al-Qur'an menjadi insan yang kamil dan bermanfaat bagi semua manusia.



Kegiatan ini berakhir dengan Do'a Bersama meminta keberkahan Al-Qur'an dan meminta agar Alloh SWT segera megangkat wabah COVID'19 yang sedang melanda diseluruh dunia.

#NuzululQur'an
#Al-AminPabuaran
#CintaAl-Qur'an
#Al-AminKominfo
#BlogAl-Amin

Marhaban Yaa Syahru Rojab



Bulan Rajab, Bulan Perjuangan
Dalam hitungan kalender hijriyah, bulan rajab merupakan bulan ketujuh. Bulan ini termasuk salah satu bulan haram (suci) dan/atau bulan yang dimuliakan. Karena merupakan bulan haram, maka tidak heran jika dikalangan masyarakat muslim banyak yang melakukan amal-amalan ketaatan di bulan ini, termasuk menunaikan puasa sunnah rajab.
Allah SWT berfirman :
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
Artinya :
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. At-Taubah : 36).
Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda "Puasalah pada bulan-bulan haram." (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Hadis lainnya adalah riwayat al-Nasa'i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): "Usamah berkata pada Nabi Muhammad Saw, “Wahai Rasulallah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya'ban. Rasul menjawab: 'Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.'"
Menurut as-Syaukani dalam Nailul Authar, dalam bahasan puasa sunnah, ungkapan Nabi, "Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang" itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya.
Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumid-Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab terkategori al-asyhur al-fadhilah di samping dzulhijjah, muharram dan sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum di samping dzulqa’dah, dzul hijjah, dan muharram.
Saatnya, di bulan rajab sekarang ini, semangat Rajab adalah semangat untuk menuju perubahan yang lebih baik, dan perubahan yang lebih baik itu hanya akan terjadi jika berasal dari system kehidupan yang baik. Dan sistem kehidupan yang baik adalah yang berasal dari Dzat yang maha baik, Dia-lah Allah swt, yang telah memberikan janji akan memberikan kekuasaan (istikhlaf) kepada kaum muslim.
Sebagaimana dalam surat an nuur ayat 55, Allah swt berfirman
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿٥٥﴾
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah Aku tanpa mempersekutukan Aku dengan dengan sesuatu pun. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik.” [TQS An Nuur : 55]

Jugun ianfu






        Perempuan-Perempuan yang di-Bangkai-kan

karya @Mega_Kata

SATU jam terlewat, diri ini masih betah duduk didepan cermin usang. Memandang lekat wajah, pundak, serta bagian tubuh lain yang masih mampu untukku pandang. Sesekali mengusap lenganku turun hingga bagian dada dengan perlahan, sambil merasakan sensasi luar biasa yang membuat sesak hingga mendorongku untuk kembali menangis. Ternyata berpuluh-puluh tahun luka itu masih belum tuntas, luka yang memperkenalkanku dengan kejamnya rutinitas biadab para lelaki yang memakai tubuh perempuan dengan paksaan1. Diusia yang masih menginjak 9 tahun, aku sudah di perkenalkan dengan perang mental yang menyeretku pada deretan perempuan-perempuan tawananan penjajah. Diusia kanak-kanak, aku memandang beribu ekpresi wajah saat itu, membuatku mengingat bahwa ketakutan di wajah kami adalah bukti ketidakbaikan batin yang kami rasakan.

“ kau tahu, kita akan menjadi seperti apa setelah ini? ” Ucapku pada seorang perempuan yang duduk disebelah kananku. Dia menatap kosong arah di depannya, usianya yang mungkin saat itu 8 tahun lebih besar dariku. Sudut bibirnya tak terangkat sama sekali, bibir tebalnya tak semerah bibir anak SMP sekarang dengan gincunya.

“kehidupan yang tak layak di pertahankan “ucapnya pelan, mirisnya. Aku tak paham maksud dari perkataan perempuan sebelah kananku saat itu. Kini aku berganti menatap perempuan disebelah kiriku. Perempuan yang terlihat cantik dengan mata bulat dan hidungnya yang mencung, belum lagi bentuk tubuhnya yang bisa dikatakan layak sebagai modelling untuk zaman sekarang. Sayangnya, lagi-lagi tak terangkat sedikitpun sudut bibir miliknya.

“ Apa yang akan mereka lakukan pada kita? “ pertanyaan kecil yang terbawa sejak aku diseret oleh para tentara yang menggunakna bahasa asing. Aku tak paham apa maksud mereka membawaku disaa aku sedang bersawah bersama Bapak.

“ Menjadikan diri kita bangkai hidup! “

“ Menjadikan diri kita bangkai hidup! “

“ Menjadikan diri kita bangkai hidup! “

Perkataan itu terkadang membuatku kadang merasa iri, menatap usia 9 tahun anak sekarang sedang asik bermain ke mall, atau berlibur dengan keluarga mereka. Itu tak berlaku pada 9 tahun usiaku saat itu. Aku menegang saat seseorang yang menggunakan pakaian tentara menarikku kedalam sebuah ruangan apik. Pantaskan aku sebut itu ruangan apik? Karena suara erangan kesakitan dan tangisan yang berkali-kali ku keluarkan membuatku merasakan bahwa inilah Jahanamnya dunia! Kesakitan luar biasa serta ketakutan yang bahkan membuatku hanya terkulai lemas dalam kurungan para biadab yang tak kutahu omongannya. Bukan candaan seperti diusia 9 tahun anak zaman sekarang, bukan juga tangisan karena hal sepele seperti jatuh dari sepeda. Ini adalah kejatuhan hidup pertama yang membuatku merasakan matinya kehidupan remajaku selanjutnya. Aku rusak! Aku cacat dibawah puluhan orang yang berkali-kali merobek kehormataanku sebagai perempuan.

Berkali-kali aku menangis meminta di pulangkan, berkali-kali juga aku merasakan sakit oleh paksaan kebiadaaban mereka. Tuhan sebenarnya dimana engkau saat itu? Diantara berpuluh-puluh perempuan aku bahkan tak mampu melihat kuasamu menolong kami. Dosa besar apa yang nenek moyang kami lakukan hingga kami menerima resikonya? Aku selalu bertanya pada kehancuran hidupku. Ku pikir, tuhan akan membawa kabar baik ketika aku sudah dibuang oleh mereka. Kenyataanya aku kembali tertampar dengan penyakit aneh yang menyerang kemaluanku, aku tak tahu mengapa keadaanya terlihat membusuk dan sakit yang teramat dalam. Belum lagi, masyarakat yang mulai megucilkanku. Aku lelah menghadapi kenyataan hidup sebagai bangkai seperti ini! Aku menjadi perempuan yang tak layak lagi menyandang status perempuan. Ketakutan yang kupendam serta seluruh kenangan buruk selama ku menjadi ianfu membuatku seakan pantas menyandang status sebagai perempuan bangkai.

Perempuan-perempuan yang tak dilihat lagi tangisnya, yang terbungkam dengan ketakutan serta ketidakberdayaan mereka pada masanya. Menjadi simbol keterasingan di wilayahnya, yang terpaksa menjadi bangkai untuk menutupi aib terbesar di keluarga dan diri kami.


sreeek....

“ Tak usah memikirkan masa lalumu lagi Maria “

aku tersentak dari lamunanku. Ketika sebuah tangan halus yang mulai keriput menyentuh bahu kananku. Tangan-tangan yang membuatku mengerti bahwa masih ada hamba Tuhan yang mau menerima bangkai seperti diriku. Sebuah tangan yang meminangku atas dasar sepercik Kuasa Tuhan kala itu. Seorang jurnalis masa penjajahan, yang sama-sama terbungkam oleh sejarah perang kemanusiaan. Dan kini 88 tahun usia senja kami, hanya mampu sesekali meratapi kisah sejarah menyedihkan di bumi pertiwi.






1 Jugun Ianfu adalah kejahatan perang pada masa PD II yang melibatkan kasus perbudakan seks di beberapa negara jajahan secara terpaksa. Jugun Ianfu sendiri terjadi di Indonesia pada masa kolonial penjajahan Jepang. Perbudakan seks yang membungkam para korbannya selama bertahun-tahun karena trauma, rasa malu serta ketakutan bagi para ex-Ianfu, membuat berita ini tersembunyi hingga bertahun-tahun. Sampai salah satu wanita Korea yang juga merupakan korban Jugun Ianfu mengungkapkan kebiadaban penjajah Jepang dalam kasus perbudakan seks. Hal itu akhirnya memacu beberapa korban Jugun Ianfu yang ada di berbagai negar ajuga mengungkapkan kesaksiannya terhadap perilaku Jepang pada masa PD II. Namun di Indonesia sampai saat ini, tidak menindaklanjuti kejadian tersebut.padahal, menurut beberapa kesaksian ex-Jugun Ianfu di Indonesia, mereka hanya mengharapkan keadilan batin selama bertahun-tahun dan juga permintaan maaf dari pihak Jepang. Sayangnya, sampai saat ini Jugun Ianfu menjadi sejarah yang terlupakan baik bagi Indonesia maupun bagi Jepang sendiri. 

Biografi dan Sejarah Berdirinya NU


     KH. Hasyim Asy'ari lahir pada tanggal 10 April 1875, di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan anak ketiga dari sebelas bersaudara. Ayahnya bernama Asy'ari, sedangkan Ibunya bernama Halimah. Beliau merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam terbesar di Indonesia. Beliau juga merupakan seorang ulama dan sekaligus pemimpin dari Pondok Pesantren Tebuireng. Sejak umur 14 tahun, beliau telah mendapat banyak wejangan serta pengajaran tentang ilmu agama langsung dari ayah dan kakek beliau. Berbagai motivasi besar beliau dapatkan dari kalangan keluarga, serta minat dalam menuntut ilmu yang beliau miliki, membuat KH. Hasyim Asy'ari muda tumbuh menjadi seorang yang sangat pandai. 

     Ketika usia 15 tahun, beliau berkelana mencari ilmu ke pesantren lain. Hal ini dilakukan karena beliau merasa belum cukup menimba ilmu yang diterima sebelumnya. Beberapa pesantren yang beliau singgahi antara lain: Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis (Semarang), Pesantren Siwalan, dan Pesantren Panji (Sidoarjo). Pada tahun 1892, KH. Hasyim Asy'ari menunaikan ibadah Haji sekaligus menimba ilmu kepada Syech Ahmad Khatib dan Syech Mahfudh At-Tarmisi, merupakan guru dibidang hadist. Ketika pulang, beliau menyempatkan diri untuk singgah ke Johor, Malaysia. Di sana beliau mengajar kepada para santri sampai tahun 1899.


     KH. Hasyim Asy'ari mendirikan Pondok Pesantren di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di tanah jawa pada abad ke-20. Mulai tahun 1900, beliau memosisikan Pesantren Tebuireng menjadi pusat pembaharuan bagi pengajaran Islam tradisional.

     Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Sejarah hari lahir NU terjadi 94 tahun silam, tepatnya tanggal 31 Januari 1926. Pendirian NU digagas para kiai ternama dari Jawa Timur, Madura, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, yang menggelar pertemuan di kediaman K.H. Wahab Chasbullah di Surabaya.


     Selain K.H. Wahab Chasbullah, pertemuan para kiai itu juga merupakan prakarsa dari K.H. Hasyim Asy’ari. Yang dibahas pada waktu itu adalah upaya agar Islam tradisional di Indonesia dapat dipertahankan. Maka, dirasa perlu dibentuk sebuah wadah khusus. 

     Sebenarnya, upaya semacam itu sudah dirintis Kiai Wahab jauh sebelumnya. Bersama K.H. Mas Mansur, seperti ditulis Ahmad Zahro dalam buku Tradisi Intelektual NU: Lajnah Bahtsul Masail 1926-1999 (2004), Kiai Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan yang artinya “kebangkitan tanah air" pada 1914. Martin van Brulnessen dalam buku berjudul NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (1994) menyebut bahwa, boleh dibilang, Nahdlatul Wathan merupakan sebuah lembaga pendidikan agama bercorak nasionalis moderat pertama di Nusantara.

     Berdirinya Nahdlatul Ulama tak bisa dilepaskan dengan upaya mempertahankan ajaran ahlus sunnah wal jamaah (aswaja). Ajaran ini bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’(keputusan-keputusan para ulama’sebelumnya) dan Qiyas (kasus-kasus yang ada dalam cerita Al-Qur’an dan Hadits) 
      



Tim Blogspot Kominfo Al-Amin
Sabtu, 1 Februari 2020

KESEHATAN TERJAGA, NGAOS TERLAKSANA


( Menjaga kesehatan di Pondok Pesantren)


//


Manusia tidak akan pernah lepas dari kegiatan yang mengharuskan pergerakan, tenaga dan juga fisik. Selama 24 jam, manusia tentunya membutuhkan keadaan yang sehat, bugar, dan baik secara emosional untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari.


APA SI ITU SEHAT????

Sehat merupakan keadaan dimana seseorang terhindari dari berbagai jenis penyakit. Baik penyakit jasmani maupun rohani, ciri  sehat juga dapat didiagnosa ketika seseorang itu tidak mengalami setres atau depresi yang akan menghambat kinerja dalam melakukan aktivitasnya.

Dengan keadaan yang sehat tentunya akan sangat mempermudah untuk memaksimalkan aktivitas kita. Bisa dibayangkan bukan, kalau kita sakit? Tentunya banyak aktivitas yang akan terbengkalai, dan jadi tidak maksimal bukan? maka dari itu teman-teman, sebagai seorang santri tentunya kita harus paham, bagaimana cara kita agar  bisa menjaga kesehatan dilingkungan pondok yang notabennya memiliki banyak kegiatan secara bersama-sama dengan jumlah orang yang tidak sedikit.


Hmmmm... kira-kira bagaimana ya tips untuk para santri dalam menjaga kesehatan di lingkungan pondok?

Sebelumnya, kita pasti tau dong penyakitnya anak pondok. Penyakit kulit? Maag? Tipes? Emm atau lambung? Bisa kalian pikirkan sendiri deh.


 Jadi gimana yaa cara menjaga kesehatan kita sebagai anak pondok ditengah keadaan pondok pesantren yang segalanya serba 'bareng-bareng'

Tim blogger kominfo punya tips nih,
Simak deeeh

Cusss langsung meluncur dong.....



1. Meningkatkan  nilai gizi pada makanan kita

Pasti dipikiran yang baca gini

'Santri ya maem seanane'

iyaiya tau kok..
Tapi pernah denger dawuhnya abah mukti enggak teman pas di pengajian?

"Sekali-kali maem ya sg bergizi! Aja jelantah lenga dienggo kuah"

Laah itu kuncinya, Abah sering kok negur kita pas Ngaos. Bergizi enggak harus wah kok teman teman, tempe? Tahu? Ikan asin? Sayur ijo-ijo? Waah udah lengkap banget tuh kandungannya. Kalau gak percaya browsing deh.


2. Jangan Menunda makan

Hayoo kebiasaan siapa yang kalau makan harus disuruh dulu? Hemm.
Teman-teman, makan itu kebutuhan kita. Salah satu sumber energi kita. Bisa dipastikan tuh kalau sering nunda makan jatuhnya ke apa? Ke lambung kan? Kasihan dong. Bahkan abah pun pernah ngendika kan sama kita.

"Dalam keadaan malampun, kalau lapar bisa ke ndalem" hehe itu perumpaan sebenarnya guys. mkstnya abah, jangan sampai kita nunda makan. Karena itu gak baik untuk kesehatan kita terutama pada lambung kita.


3. Sering menghirup udara yang segar dan berolahraga ( no mager mager club )

Rebahan? Emm apa yang terlintas di benak kalian? Enak? Nyaman? Pokoknya kenilmatan ya? Boleh si boleh..
Tapi harus seimbang dong sama gerak kita. Harus tetep rajin olahraga, senam kecil-kecilan, lari pagi, dan juga selalu membersihkan ventilasi agar udara yang masuk ke kamar kita menjadi segar.


4. Selalu rajin roan ( heheh )

Kalau 3 tadi adalah pola hidup, ini adalah kewajiban kita bersama teman-teman. Pondok pesantren adalah rumah. Dan sebagai penghuni yang merasa memilikinya tentu wajin menjaga kebersihan lingkungan pondok.
Menguras bak mandi seminggu sekali, tidak membiarkan sampah menumpuk, mengangkat jemuran yang sudah kering, sering membersihkan kamar mandi, dan menjaga kebersihan saluran air. Semua berawal dari kita dan untuk kita teman-teman.

Coba bayangkan kalau kita tidak peduli dengan kebersihan pondok? Banyak sampah, bak mandi kotor, yang semuanya adalah sarang penyakit.

Memang, penyakit datangnya dari Allah. Tapi tugas kita kan mengabdi pada Allah, secara sederhana , dengan menjaga kebesihan lingkungan, yang tentunya memberikan rasa nyaman pada orang lain akan menjadi salah satu benguk pengabdian kita pada Allah. Gimana?? Setuju enggak?





Okeee... setelah banyaknya tulisam diatas, semoga bisa diendahkan, dipahami dan dilaksanakan ya teman-teman. Dan jangan lupa selalu jaga kesehatan kita, karena musim juga sedang tidak menentu. Tidak lupa, doakan teman-teman kita juga yang sakit, semoga segera diberi kesembuhan dan bisa berkumpul bersama kita lagi.


Kesehatan terjaga, ngaos terlaksana..







(..... untuk minggu depan akan ada artikel tentang, manfaat kegiatan di pondok nih. Mengantri? Bersosialisasi? Ternyata berpengaruh baik untul kesehatan mental kita loh.. Penasaran?? Tunggu di blog al amin kominfo )





Salam.
Contact Me

Cari Blog Ini

Link list

Mengenal Tokoh Ulama

Mengenal Sosok Mbah Kiai Abuya Dimyati

Alangkah ruginya kita apalagi kalangan kaum santri apabila tidak mengenal ulama ini. Ulama yang terkenal memiliki kharismatik dan namanya...

Pengikut

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

Adress/Street

Jalan H.R Boenyamin Gg Gunung Sumbing No 13. A Pabuaran Purwokerto Utara

Phone number

********

Website

www.alaminkominfo.blogspot.com